Guitar, Guitar Heroes and me (part I)

Gitar, instrumen standar buat anak nongkrong di ujung gang, suaranya sember , lagunya pun sekedarnya. Gitar bisa menjadi alat mencari nafkah untuk pengamen, kadang hasilnya bagus kadang (terkesan) asal asalan.

Gitar bila dimainkan secara akustik secara bersama oleh pengamen bahkan bisa mengalahkan penyanyi studio, dulu waktu opa Muharyo tetangga depan rumah masih ada, hampir setiap malam minggu ada 4 orang pengamen menyanyikan lagu-lagu Spanyol/Latin secara kompak dan indah. Main gitarnya pun semantap rekaman di studio bertenaga dan sangat ahli.

Saya juga ingat dulu pernah ngobrol dengan seorang pengamen muda dengan gitar merah lusuhnya di Halte Ratu Plaza. Dia bercerita mengenai hidupnya, mengenai lagu-lagunya yang dia jual ke orang, mengenai musik kesenangannya. Dia sempat mendemonstrasikan beberapa lagu rock indonesia begitu saya bilang saya senang dengan Eet (Syahranie dari Edane). Ia langsung menggeber gitarnya memainkan lagu ”Bis Kota”.Saya seneng melihat jari-jarinya menari dengan lincah. Sempat juga sedikit “nyolong”cara bermain gitar karena ada keinginan untuk bisa main gitar juga

Sebenarnya saya kekaguman saya dengan para gitaris dimulai sejak SMA. Hobi saya yang mulai senang mendengar lagu cadas (yang instrumen kuncinya adalah gitar) membuat saya “melirik” orang-orang yang jagow main gitar. Menurut saya mereka itu sangat pintar bisa membagi konsentrasi antara tangan kiri dan kanan yang mengerjakan 2 pekerjaan yang berbeda (belakangan saya lebih salut lagi dengan drummer yang kaki dan tangannya masiang-masing punya tugas beda).

Eko adalah teman karib saya ketika SMA yang jagow maen gitar, saya sempat main beberapa kali ke rumahnya, dari dia saya jadi tahu banyak hal mengenai gitar. Walaupun tahu pun sekedar tahu saja karena saya tidak terjun menjadi gitaris. Saya jadi tahu kalau kotak hitam yang dicolokin kabel penghubung gitar itu ada macam-macam. Eko menyebutnya sebagai sound,amplifier atau cabinet. Waktu itu Eko sudah pake Amplifier Marshall dengan 4 tabung (?) katanya suaranya lebih mantap dibanding sistem biasa. Gitarnya Eko juga keren sekali, mereknya Ibanez, kalau nggak salah mirip atau satu seri dengan gitarnya Steve Vai (salah satu guitar hero dari nagari). Nggak cuman jadi “poser” alias nampang doang dengan alat canggih nan mahal, Eko tentu saja jadi ikon gitaris di SMA, bersama bandnya dia mainin lagu-lagunya Megadeth dari Rust in Piece yang solo gitarnya ampun-ampunan njlimet.

Adiknya si Budi juga jago bener waktu main di rumahnya Eko saya sempet melihat dia memainkan lagu “Black Magic” dari Reb Beach dari album “The Guitars that Rule the Word”, trully a jaw dropping moment.hahahah..kampung abis…ada terbesit keinginan untuk belajar main gitar tapi saya mungkin masih senang dengan komik dan penerbitan. Atau takut tambah fans soalnya, gitaris biasanya dikelilingi wanita hehehehe ….Kabar terakhirnya Eko jadi sound engineer untuk Erwin Gutawa, dan adiknya si Budi jadi gitarisnya setelah sebelumnya sempet bikin band dengan satu album tapi gak terlalu kedengeran gaungnya. Kalau diinget-inget lagi,sih ada Mbib atau Boy yang main bluesnya jago dan bisa ngarang lagu, ada Bowie yang juga bisa main semua lagu, terus ada Surya alias Uya yang jago main bas, kemudian Idi. Standar juga kayaknya anak laki bisa main gitar,ya?

Ketika saya kuliah ada beberapa orang lagi kenalan saya yang jagow main gitar, ada Iwan adik angkatan yang gape main keyboard dan gitar (ibanez juga gitarnya), lalu ada Ogie juga adik kelas juga yang seneng mainin lagu jazz dan blues kebetulan juga jago main keyboard dan bisa main drum. Kemudian ada Ferdi dengan gitar Jacksonnya dia doyan banget main ala Yngwie Malmsteen, sayang dia sekarang sudah tiada karena kecelakaan di jalan tol. Dari teman seangkatan ada anak Betawi, namanya Hendra Kurniawan punya gitar listrik item yang ditempelin stiker macem-macem dan gitar kopong di rumahnya. Hendra pinter nyari kunci lagu hanya dari dengerin kasetnya buntutnya sering saya todong untuk nyariin kunci lagu yang saya suka. Kemudian ada Anthony, lebih jago dari Hendra. Oni begitu dia dipanggil seneng mainin lagu dari film Warkop dengan gitar kopong (itu lho,lagu Warkop yang mirip lagunya Pink Panther), bisa mainin intronya Green Tinted Sixties Mind dari Mr.Big (juga dengan gitar kopong) dan kalo ngegenjreng gitar kocokannya super mantap dan keren.(jadi inget di mainin solo gitar akustik lagu Innuendo dari Queen sambil cengangas cengenges )

Dan seperti biasa kalau melihat mereka main saya mencoba untuk memahami logika bermain gitar, kok, bisa ya? Gimana caranya,ya? Nggak bisa nggak jadi kagum …

(bersambung)

Photo Credits: Reb Beach by i-don’t-know-who-from-the-internet

IPDN ngeles dot com part 2



Bola terus bergulir LOL ini ada web seru bueheheheh … Ganjang kabir-kabir!

Ada-ada aja,sih, tambah ngetop deh IPDN hihihhi

Intertnet memang jadi outlet protes yang lumayan efisien, walaupun anggota DPR(D) nggak akan lihat karena belum jadi punya laptop dan sebagian sudah “menjual” emailnya .huhuhuhuhu…

Satu yang kreatif ada disini

Om chaos bikin banner sebagai protes terhadap IPDN

contoh bannernya:

Oh, iya berita lanjutan mengenai “killing fields” bisa dilihat disini

IPDN ngeles dot com …

Kocak nih .. IPDN mencoba counter measure kali, ya? udah rektornya ketahuan ngasi rekomendasi buat 9 pembunuh Wahyu Hidayat biar bisa kerja di pemerintahan,eh, bikin web begini …kreatif juga,sih. Sayangnya menyangkut hal nggak bener ..

link favorit gue (ngakak baca komennya)…lumayan buat ngilangin bete …

Tjampolaj [balada sebuah band]

Sebagian besar orang mengenalnya sebagai sirup khas Cirebon yang suka jadi oleh-oleh. Tapi buat saya Tjampolaj adalah nama sebuah Band Kampus di mana saya sempat bergabung di masa-masa akhir kuliah dulu. Telat? Mungkin juga,sih, karena musimnya orang nge-band biasanya jaman SMA. Better late than Never. Walaupun pengalaman manggungnya bisa dihitung dengan jari, Tjampolay rajin berlatih di sebuah studio di Pasar Minggu di seberang bengkel Volvo yang sewanya dibayar patungan. Tjampolay beranggotakan anak-anak kampus yang terdiri dari Amel (vokal), Iwan (keyboard/Gitar), Ogie (Keyboard/Gitar/Drum), Ardie (Drum,Gitar/Vokal), Hendra (gitar), dan saya (Bas). Kebetulan semuanya ikutan di UKM yang sama yang bernama Suara Ekonomi, kecuali si Hendra yang teman seangkatan dan sejurusan (sekaligus guru gitar saya).

Karena vokalis utamanya cewek jadilah lagu-lagu yang dibawakan tentunya dari band-band cewek seperti The Corrs, Moonpiles and the caterpillars, Cardigans, atau vokalis cewek seperti Natalia Imbruglia yang lagi ngetop-ngetopnya dengan ”Torn” dan Lisa Loeb yang lagi ngetop dengan “Stay”. pPernah juga kita dadakan ngebawain lagunya Richard Marx( yang main keyboard dan vokal doang – kekekkek..;).

Biasanya kita latihan sekitar 1-2 jam-an, dan kalau Amel sang vokalis sudah capek kita akan rotasi (kecuali saya). Ardie pindah ke vokal/gitar, Ogie pindah ke belakang drum set , Iwan pindah ke gitar, Hendra pindah ke Keyboard atau tetap di gitar. Dan dimulailah kehebohan ”free jamming” yang bikin terpingkal-pingkal. Ardie akan mulai nge-”growl” lagu secara acak diikuti gebukan ”metal” Ogie (Ogie sebenarnya anak jazz, jadi kalo dia main sok metal gitu jadi lucu) yang “super” cepat dan garukan rythm Iwan yang beradh. Ardie kadang bereksperimen menggesekkan gitar ke mike stand yang meningkahi teriakan hardcore nya. Amel secara dia cewek, dengan manis hanya bisa menutup kupingnya sedangkan saya hanya bisa terpingkal-pingkal dan melupakan ”tugas” bermain bass.

Walau secara resmi kita cuma sempat manggung 2 kali, tapi senang,lah, ngerasain penonton respon lagu 😀 terutama pas mainin ”Runaway” waaaah … my 5 minutes of fame…hehehe…Kapan,nih, nge band lagi? 😀

The Tjampolay playlist.

Nama band Tjampolaj diambil dari sirup Tjampolaj yang suka dibawain salah satu teman di Suara Ekonomi bernama Danny Boy Pasaribu yang sering mudik ke Cirebon. 😀 (Kemana tuh anak sekarang,ya?)

KOMTIGBUL 1.5


Setelah sukses tanggal 8 April dan atas permintaan yang tinggi maka diadakan




KOMTIGBUL (Pasar Komik Tiga Bulanan) 1.5

Untuk anda yang berniat menjual komik karyanya sendiri atau komik-komiknya yang sudah tidak mau dibaca, bahkan tidak mau dilihat lagi (bisa Marvel, DC, Elex, Image, Topcow,dll)

Silahkan datang dan berkunjung ke Tebet Timur III no.42C ( sebelah isi ulang air mineral ‘veequa’ ) untuk jelasnya lihat Peta

Acara kecil-kecilan ini bisa terselenggara berkat kerjasama pihak-pihak terkait :
gkk, komik karpet biru dan lain-lain.

info untuk datang atau ikutan jualan: Ardie


Another Waste part II – IPDN case

Dosen yang membuka perilaku miring IPDN kini juga mau diberangus (disini)

Selain itu ternyata ada fakta baru bahwa si Praja malang sempat di suntik Formalin di klinik IPDN (pastinya doi udah tewas) untuk menutupi luka-lukanya. OMG, udah pinter nabokin orang, pinter ngeles dan ngasi alesan, pinter ngilangin bukti pulak! Gimana gak lolos korupsi semua?

Anybody know any sniper or mercenary?

Another Waste

Cliff tewas di gebuki 13 seniornya.

Cliff Muntu siswa IPDN (dulu SPDN?) tewas setelah “dibina” oleh 13 seniornya. Cliff dibawa ke RS dalam keadaan telah tewas antara 1 – 3 jam. Pihak Sekolah menyatakan bahwa Cliff terkena penyakit Lever. Yeaaaaaah, riggghhttt. Selengkapnya disini

Man! those 13 sunovabitches need to be “educated” on real pain. Disiplin, mah, disiplin emangnya kalau mau jadi camat nantinya tukang tampolin warganya? Ujungnya paling korupsi ama nantinya kalau ketahuan pura-pura sakit … chicken!

IPDN = Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Standar Jasa Penerjemahan

Kita Sekarang Memiliki Acuan Tarif
Selama ini, tarif penerjemahan tidaklah seragam. Setiap penerjemah menerapkan tarif yang berbeda-beda. Padahal, penerjemah, terutama yang tergabung dalam organisasi profesi, sebaiknya mempunyai acuan tarif tertentu. Perbedaan tarif itu menyebabkan klien dapat menawar dengan harga yang sangat murah sehingga merugikan penerjemah.
Pusat Penerjemahan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (PPFIBUI) bekerja sama dengan HPI untuk merumuskan acuan tarif jasa penerjemahan. Acuan itu bukan merupakan standar tarif minimal, tetapi dapat digunakan penerjemah untuk menghadapi klien. Dengan adanya acuan tarif itu, penerjemah akan memiliki posisi tawar yang tinggi.
Acuan tarif jasa penerjemahan itu dapat diminta di Sekretariat HPI .

ACUAN TARIF JASA PENERJEMAHAN

Pusat Penerjemahan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) dan Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) menyampaikan acuan tarif penerjemahan sebagai berikut:

A. Penerjemahan Tertulis

Dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia

Arab – Indonesia Rp. 50.000,-
Belanda – Indonesia Rp. 50.000,-
Cina – Indonesia Rp 100.000,-
Inggris – Indonesia Rp. 50.000,-
Jepang – Indonesia Rp. 100.000,-
Jerman – Indonesia Rp. 50.000,-
Prancis – Indonesia Rp. 50.000,-
Rusia – Indonesia Rp. 100.000,-
Italia – Indonesia Rp. 50.000,-
Spanyol – Indonesia Rp. 50.000,-

Dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa asing

Indonesia – Arab Rp. 75.000,-
Indonesia – Belanda Rp. 75.000,-
Indonesia – Cina Rp 150.000,-
Indonesia – Inggris Rp. 75.000,-
Indonesia – Jepang Rp. 150.000,-
Indonesia – Jerman Rp. 75.000,-
Indonesia – Prancis Rp. 75.000,-
Indonesia – Rusia Rp. 125.000,-
Indonesia – Italia Rp. 75.000,-
Indonesia – Spanyol Rp. 75.000,-


Dengan catatan:

1. Penentuan tarif tersebut dihitung untuk setiap 1500 karakter (huruf, angka, tanda baca, spasi) hasil terjemahan.

2. Tarif penerjemahan buku ditentukan berdasarkan kesepakatan antara penerjemah dan pemberi tugas.

3. Penerjemahan dokumen seperti ijazah, akta kelahiran, surat kematian, dan surat kuasa dihitung secara berbeda, yakni sebagai berikut:

DOKUMEN
INGGRIS BELANDA
JERMAN
PRANCIS ARAB
CINA
JEPANG
IJAZAH (STTB) [transkrip nilai tergabung dalam ijazah] Rp 100.000,- Rp 125.000,- Rp 150.000,-
IJAZAH (DIPLOMA, SERTIFIKAT) tanpa transkrip nilai Rp 100.000,- Rp 125.000,- Rp 150.000,-
TRANSKRIP NILAI/RAPOR Rp 100.000/hal Rp 125.000/hal Rp 150.000,-
AKTA KELAHIRAN, SURAT KETERANGAN, DAN SEJENISNYA Rp 100.000,- Rp 125.000 Rp 150.000,-


B. Penerjemahan Lisan

1. Tarif jasa juru bahasa konsekutif Rp250.000 setiap jam, minimal dua jam atau Rp2.000.000 satu hari kerja (delapan jam) per orang.

2. Tarif jasa juru bahasa simultan Rp500.000 setiap jam, minimal dua jam atau Rp4.000.000 satu hari kerja (delapan jam) per orang yang bekerja dalam tim yang terdiri atas dua orang anggota..


C. Penerjemahan Film

Tarif jasa penerjemahan film dihitung menurut durasinya, yaitu Rp2.000.000,- untuk film dengan durasi 90––120 menit. Tarif jasa penerjemahan film yang berdurasi kurang dari 90 menit atau lebih dari 120 menit diperhitungkan secara proporsional.


Jakarta, 31 Maret 2005

Dr. Tresnati S. Sholichin

Kepala Pusat Penerjemahan
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia

Ketua Umum Himpunan Penerjemah Indonesia

Prof.Dr. Benny H. Hoed

dari sini

Thanks to Ephi