Mengenai …

Setelah baca postingan mba Dee
Dulu pernah dapat fwd email mengenai topik yang selalu santer menjelang 25 Desember šŸ˜€

Mungkin bisa sebagai bahan pelajran. whether you are a muslim, hardcore muslim, non practicing muslim or a non muslim

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

buat temen non muslim, please see in positive way

Assalamu'ala Manittaba 'alalhuda.
 
Untuk temen-temen non muslim, smoga ini bisa menjelaskan tentang sikap
kami yang muslim yang engga mengucapkan selamat hari raya natal.
email ini saya dapet dari  teman saya yang merupakan temen saudara 
Usman
(seorang dosen di Maine university - kalo gak salah - berkebangsaan
Indonesia, beragama islam).
 
ada cerita yg gambarin indahnya persahabatan šŸ™‚
semoga bermanfaat.
 
 
 
-------Original Message-------
 
From: is-lam@i...
Date: Wednesday, December 19, 2001 12:26:30 AM
To: is-lam@i...
Subject: [is-lam] Seputar fatwa MUI
 
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Salam sejahtera,
 
If only, rekan-rekan non-muslim tahu konsekuensi perayaan
natal bersama bagi muslim, Anda sekalian tak akan pernah
memaki MUI dan juga tak akan pernah berharap ada ucapan
selamat natal dari muslim.
 
Anda merayakan kelahiran Jesus sebagai Juru Selamat, bukan
Jesus sebagai nabi, utusan Allah. Di sinilah salah satu
perbedaan mendasar antara Islam dan Kristen. Islam melihat
Jesus sebagai seorang utusan Allah, manusia biasa [bukan
anak Tuhan], yang dibekali banyak mukjizat untuk mendukung
kerasulannya.
 
Merayakan natal bersama sebagaimana difahami oleh ajaran
Kristen, berarti sebuah pengakuan bahwa Jesus adalah sang
Juru Selamat. Bagi orang Islam, tindakan ini adalah perbuatan
syirik [for sang Juru Selamat di dalam Islam is Tuhan yang
Esa -tidak beranak dan tidak diperanakkan, yang dalam bahasa
Arab disebut Allah].
 
Ketika Anda [Nasrani] mengucapkan selamat idul Fitri, tak
ada konsekuensi theologis bagi Anda. Tak mengubah pengakuan
Anda bahwa Jesus adalah sang Juru Selamat. Ketika muslim
mengucapkan selamat natal dalam konteks yang difahami ummat
Nasrani, muslim itu telah mengakui bahwa Jesus is sang
Juru Selamat.
 
Kalimat yang konsekuensinya sepadan dengan ucapan selamat
natal itu adalah ucapan dua kalimat syahadah: "Aku bersaksi
bahwa tiada tuhan selain Allah, danaku bersaksi bahwa nabi
Muhammad itu utusan Allah."
 
Nah, beranikah Anda sekalian mengucapkan dua kalimah
syahadah itu, yg oleh karenanya Anda tidak lagi mengakui
bhw Jesus is the Savior? yg oleh karenanya juga Anda
telah menjadi muslim?
 
Mohon alinea di atas itu Anda renungkan baik-baik.
 
Dengan apa yang sudah saya uraikan di atas, saya stand
firmly behind fatwa MUI tentang natalan ini.
 
Kepada mereka yang sempat menulis, "kalau saja MUI
mengeluarkan fatwa agar ummat Islam tak berhubungan
dengan ummat lain", saya minta baca lagi fatwa MUI.
Di fatwa itu juga dianjurkan agar ummat Islam tetap
menjalin hubungan dengan non-muslim [dlm urusan yg
tak terkait dengan akidah].
 
FYI, MUI juga tak akan mengeluarkan fatwa spt yang
Anda 'andaikan' itu, krn al Qur'an sendiri mengajarkan
agar ummat Islam menjalin hubungan dengan ummat lain
dalam soal kemasyarakatan [hal-hal yang tak terkait
dengan akiqah]. Seandainya MUI mengeluarkan fatwa spt
yang Anda 'andaikan', maka muslim spt saya ini pertama
kali akan menentang fatwa itu.
 
Kepada mereka yang menulis, MUI menteror minoritas dengan
fatwanya, saya sarankan untuk bisa menempatkan persoalan
pada proporsi yang sebenarnya.
 
MUI sebagai kumpulan ulama punya kewajiban mengingatkan
ummat Islam, dalam bentuk petuah-petuah [fatwa]. Ketika
pelaksanaan ajaran agama [Islam] dicampur-adukkan dng
kepercayaan agama lain, maka tugas ulama lah memberikan
teguran kepada muslim.
 
Seandainya MUI mengeluarkan fatwa melarang ummat Kristen
u/ merayakan natal, itu yang disebut teror. Dan, saya sebagai
muslim akan menentang fatwa spt itu. Tak seorang pun di dunia
ini yang boleh menghalangi ummat lain melaksanakan ajaran
agamanya.
 
Sebaiknya, rekan-rekan Kristen juga bisa memahami apa arti
perayaaan natal bersama ini secara theologis. Sudah pernah
saya sampaikan, tak memberi ucapan selamat natal atau tak
ikut perayaan natal bersama, bukan berarti teman muslim Anda
memusuhi Anda. Selain itu, masih banyak aktivitas lain yang
dapat dikerjakan bersama-sama tanpa harus mengorbankan akiqah
masing-masing.
 
Saya berikan contoh apa yang barusan saya alami.
 
Pagi itu, Jum'at dua hari menjelang lebaran, saya berniat
mengundang bro Achilov, dari Uzbekh untuk makan sahur bersama.
Karena ia tak makan daging, saya menyiapkan udang sebagai
pengganti. Sayuran (baby carrot, mushroom, brokoli) sudah
selesai dipotong-potong, udang sudah di-defrost di microwave,
dan bumbu (bawang bombay, bawang daun, dan paprika) sudah
selesai dipotong. Saya sudah menghidupkan stove sambil
motong-motong bawang putih.
 
Sebelum semua bawang putih selesai dipotong, pagi itu
pukul 4:10 telphone di dapur berdering. Saya angkat.
"Hey...may I speak to Usman please?"
"It is he," jawab saya.
"Usman, I am very-very sick. If you don't see me on campus
today, that means I am in a hospital," kata JJ
"Wait..wait..are you going to go to the hospital?"
"yes."
"now?"
"yes"
"How?"
"I am gonna take 5:45 bus."
"Oh no. You can't go to the hospital alone. I will go with you."
"Are you sure?"
"Positive."
"O thank."
"But, wait. My car is not at home. Bro Achilov have it tonight.
I am going to call him. If he is awake, we will take you to the
hospital. If
he is not, then we take 5:45 bus."
"Are you sure he will be awake?"
"I hope so. Because we needs to do our morning prayer."
"Oh I don't want to interupt your prayer."
"Hey don't worry, we still have plenty of time."
"Okey then. I am waiting."
"Okey, I'll call him. And I'll call you back in five minutes.".
 
Kutelpon bro Achilov. Ia baru bangun. Saya ceritakan kondisi JJ
yang perlu ke hospital pagi itu, ia tak keberatan datang. Kepada
brother Achilov saya juga minta untuk mampir di Dunkin' Donut
pesen tiga kopi dan donat. "For her, decafe with cream no sugar,"
pesan saya.
 
Kutelpon kembali JJ, saya bilang dalam sepuluh atau limat belas
menit kami akan sampai di apartemennya. Saya juga sampaikan kalau
kami akan bawa decafe coffee dan donut untuknya.
"O thank Usman. You know me so well." [maksudnya tentang
kopinya yang bebas kafein dan tak pakai gula itu.
 
Jam 4:45 kami sampai di ruang ER Estern Maine Medical Center.
Setelah pendaftaran dan pemeriksaan awal, kami disuruh nunggu di
ruang tunggu ER. Jam 5:25 saya bilang ke JJ kalau it's okey for
her ditinggal selama 10 minutes.
"It's time for us to perform morning prayer," kata saya.
"Go ahead. I think I am gonna be okey," kata JJ terlihat ngantuk.
 
Kami pun segera wudhu, keluarin sajadah dari back pack, ukur arah
kiblat dengan kompas kecil yang menggantung di kunci mobil, sholat
subuh.
 
Dikira suami JJ, saya dipanggil masuk ke ruang periksa ER. Di
dalam ruangan periksa, ternyata JJ menangis spt baby. Katanya,
semua tubuhnya panas spt terbakar, dokter memberikan suntikan,
tiba-tiba tubuh JJ menggigil. Sesekali saya harus nutup mata
karena baju rumah sakit yang dipakaikan ke JJ tersingkap saat
ia guling kanan-guling kiri di dipan rumah sakit.
 
Ketika dokter memeriksa lagi -artinya banyak bagian tubuh JJ
yg tereskpos-saya nutup mata lagi. Ketika dokter melihat saya
nutup mata, ia mengira saya tertidur. "Sir, wake up. She need
your support," katanya.
"I am not sleeping doc. I just..." saya tak lanjutkan.
"He can't see me like this doc. His religion does not
allow him to." [like this yang JJ bilang itu adalah...half
naked. Memang dokter harus memeriksa seluruh tubuh JJ, dan
benar...ia akan terlihat more than half naked].
 
sesaat setelah dokter meninggalkan ruangan, panas dan dingin
di tubuh JJ datang silih berganti. Kadang ia merasa spt
dibakar, kadang menggigil kedinginan. Sepanjang pagi itu,
ia nangis terus. Saat menggigil kencang sambil nangis
mengerang-erang, saya tak sampai hati lagi. Saya genggam
telapak tangannya, sangat dingin. Saya genggam erat dengan
harapan ada aliran panas dari telapak saya. Saya tak tahu
apa yang terjadi, tapi JJ nampak lebih tenang ketika telapak
tangannya saya genggam.
 
Saya tahu I am not supposed to do that. Dia bukan muhrim
saya. Apalagi saat itu saya masih
berpuasa. Saya sendiri
ragu-ragu sebelum melakukannya. Antara ya dan tidak, ya dan
tidak terus berperang. Tapi kemudian saya putuskan
untuk comfort her. Saya genggam telapak tangannya erat
sekali, JJ tenang, dan akhirnya tertidur. Saat memutuskan
akan memegang tangan JJ itu, saya berdoa kpd Allah: "Ya Allah,
kalau apa yang akan saya lakukan ini membuat puasaku batal,
please forgive me. Saya akan sahur puasa yang batal itu dilain
waktu. Sekarang JJ butuh pertolongan saya."
 
Pukul 10:15 kami pulang dari rumah sakit. Setelah mengantar
JJ ke apartementnya, saya harus ke kampus mengirim banyak
email ke prof JJ mengabarkan kondisinya saat itu dng
melampirkan scaning medical record yang diberikan dokter ER.
 
Pukul 11:05 saya email bro Achilov, agar mencari saya di
lantai 3 perpustakaan. Saya take a nap sebelum ke masjid,
Jum'atan. Saya harus take a nap karena jam 2-6 harus cover
JJ's shift di tempat kerja [kalau tidak ia bisa kena pecat],
padahal saya sendiri tiap jum'at malam punya shift jam
6 sore sampai 3 pagi di coffee shop student union.
 
Ketika bro Achilov membangunkan saya pukul 12:03, saya punya
cukup a nap. Kami pun ke masjid sholat Jum'at.
 
***
 
JJ seorang Nasrani. Her sister adalah misionaris yang spent
banyak waktu di Bosnia. Ayah JJ punya doktrin bahwa seluruh
ummat manusia di dunia ini harus beragama Kristen. JJ tahu
saya muslim. Saya berpuasa, sholat, tak minum alkohol, tak
makan pork.
 
Saya bisa mengantar JJ ke ER tanpa harus meninggalkan ajaran
agama saya. Saya tetap sholat subuh saat menunggui JJ. Saya
tetap berpuasa hari itu, meski harus puas dengan sahur
secangkir kopi dan dua butir donat.
 
Apa yang saya lakukan di atas adalah contoh bagaimana seorang
muslim bisa besahabat baik dng non-muslim, tanpa harus
mengorbankan akidah agamanya. Persahabatan kami begitu baik
dan akrab sampai JJ berani nelpon saya pada jam di mana
rata-rata american tidur nyenyak [4:10 pagi]
 
JJ sudah memutuskan akan mengundang saya ke rumah orang tuanya
di liburan natal ini. I'll take about 2 hrs drive. Saya terima
undangan itu, setelah JJ sepakat apa yang bisa saya lakukan dan
apa yang tidak bisa saya lakukan terkait dengan acara natalan
keluargannya.
Karena JJ juga tahu saya tak minum alkohol, ia
minta orang tuanya menyediakan non-alkoholic champagne untuk
saya.
 
Lihatlah JJ, ia begitu menghargai keyakinan agama saya [Islam]
yang tak minum alkohol, tak makan pork, tak mengucapkan selamat
natal, tak ikut partisipasi dalam acara kebaktian natal. Ketika
saya katakan, it's religous reason, that's it. Tak ada tawar
menawar.
 
Di Indonesia, mengapa banyak rekan non-muslim yang masih saja
tak faham bahwa muslim tak seharusnya dilibatkan dalam acara
natalan mereka. Apakah tak ikut dalam acara perayaan natal
berarti tak bisa bersahabat?Kalau Anda semua tak mau memahami
keyakinan ummat Islam -terutama dlm soal natalan ini-
bagaimana mungkin kita akan bisa
berhasabat?
 
Lihatlah apa yang saya lakukan ke JJ. Untuk menenangkannya,
saya tempuh resiko batal puasa hari itu. Batal puasa menurut
Islam, masih bisa ditebus di hari lain. Akibat batal puasa
tidak seserius ikut perayaan natal [dosa syirik].
 
Tirulah JJ, ia menghormati saya sebagai muslim. Saya pun
bisa menimbang,hal mana yang dapat saya korbankan untuk
membantunya. Kalau nanti saya jadi berada di tengah-tengah
keluarganya [orang tuanya ingin berterima kasih atas apa
yang saya lakukan untuk JJ], saya tetap tak akan mengucapkan
selamat natal, tak akan ikut partisipasi dalam ceremony
kebaktian natal,tak akan minum champagne (yg dikeluarganya
merupakan tradisi natalan), dan tak akan makan pork.
 
Menurut pertimbangan akal sehat saya, fatwa MUI tentang
natal sudah benar. Fatwa itu dikeluarkan ketika Buya Hamka
jadi ketua MUI, yg prihatin dengan cara pemerintah Orba
memanipulasi kata 'toleransi beragama'.
 
Wassalam,
Usman Maine

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++


12 thoughts on “Mengenai …

  1. Seperti main game, ada syarat dan kondisi, ada password, untuk naik rank harus ngumpulin point dan ada pengurang point dan power, bedanya nggak cheat disini dan kalo sudah sampai finish nggak pernah bisa diulang…

  2. bulatpenuh said: hahaha… sempat mengalami hal yang serupa… alhamdulillah teratasi.kalau masuk ke dalam tempat ibadah agama lain gimana? aku ragu makanya tak masuk.

    kalau ragu memang jangan šŸ˜€

  3. hmm.. i beg to differ in this case…. it is safer and probably best to follow that MUI fatwa, but to do things differently, as long as you know what you are doing and how it affects you and your aqidah dan masih mampu jaga akidah dan melakukannya karena Allah SWT, i still think that is okay.:)

  4. wah. penjelasannya saya suka. kemaren2 gua ga setuju karena alesan2nya kurang membangun. nah. yang ini bagus. hem. although somehow 25 desember selalu identik sama ‘warmth’, mungkin gara2 gua terlalu banyak nonton film ya. hehe. hem, but i’m gonna hold on to this one. really nice, bro. thanks !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.