Iseeeeeeeeng banget

Robotic Online Exploration Lifeform
Get Your Cyborg Name

Dari websitenya ibu Ranger

Wakakkakaa…pas bener. …

Advertisements

Phoenix Rising


The
phoenix (Ancient Greek: Φοῖνιξ, phoínix) is a mythical sacred firebird in ancient Phoenician mythology, and in myths derived from it. (Source Wikipedia, Picture from www.phoenixexotics.org/) – Burung mitologi …ada dimana-mana


Phoenix Ikki (鳳凰星座の一輝 Fenikkusu no Ikki?, Ikki meaning “gleam”) is a character from the manga Saint Seiya, authored by Japanese mangaka Masami Kurumada, and later adapted to anime. (Source Wikipedia, Picture from http://yellowpika.110mb.com) – The strongest from the Saint Seiya Silver fighters group …saking kuatnya jarang nongol karena hampir pasti memang.


River Jude Phoenix (August 23, 1970October 31, 1993) was an Academy Award and Golden Globe-nominated American film actor. He was listed on John Willis’s Screen World, Vol. 38 as one of twelve “promising new actors of 1986”, and was hailed as highly talented by such critics as Roger Ebert and Gene Siskel.(Spurce Wikipedia , Picture from http://www.xfamily.org/) – Happens to be my Wife’s favourite actor, sayang umurnya pendek …tapi saudara2nya lumayan berkibar seperti Joaquin Phoenix. Malang melintang di berbagai film sepertu Ladder 49, Walk the Line (berperan sebagai penyanyi legendaris Johny Cash) dan di nominasikan berbagai penghargaan bergengsi….

Skywalker Phoenix Bask

Berat 3 Kg
Panjang 49 Cm
Lahir jam 00.25
Tanggal 25 Juni 2008

Nah, kalau itu putra pertama pasangan ini:

nyang berita pernikahannya saya sempat post disini

Padahal tanggal 22 Juni nya saya sempat ketemu dengan mereka di resepsi pernikahannya Dippy dan July dari Kabin. Perkiraanya memang lahir antara 1 sampai 3 minggu.

Selamat, ya, guys…Best Wishes for you

NB: Bask = Basuki dan Kitty …kreatif aja kalian berdua, habis itu langsung diajak capoeira bareng2 ye 😀

Posting apaan,ya?

Nothing to post …
I’ve just received a copy of my article
The illustrations can be seen here and here.


Though not as witty as Om Isman’s writing … 😀

What else?

Maybe a vector of somebody else’s pencils (somebody i barely know from Deviant art).

The original creator put a special journal on everybody who coloured his pencil sketches here

Last night on the way home i called four of my friends
The first one is doing overtime and won’t come home for the night
The Second one was suddenly handled a deadline which he couldn’t say no to and had to cancel his appointment to pick up his wife. Probably he stayed at the office until Batman returns from patrolling.
The Third one has just arrived home after meeting with his client from 8 or 7 am … and was planning to go playing badminton although he wasn’t feeling to well. He also expressed his concerned on how the other friend will be doing regarding the friends moving. He wanted to ask his wife (who is also our friend) but he kept forgotting to PM her because he was to busy.
So I called the Fourth friend/the other friend who is still sick. Not a long conversation due bad connection but we got to chat a bit about his plan to move.

dan gue baru aja ngisi pulsa…me and my big mouth ….

The Smurf Movie?

Hollywood lagi seneng remake ide-ide dari luar. Kali ini komik masa kecil gue “The Smurf” konon kabarnya akan dibuatkan movie CGInya. Konon kabarnya pula bakal ditukangi oleh Colin Brady (Animation supervisor untuk “Hulk” dan “Lemony Snicket’s A Series of Unfortunate Events”). Mengenai pengisi suaranya belum ada smurf lebih lanjut…wekekeke.

Sumber Smurf:
IMDB : The Smurf
Slashfilms : First look: The Smurf
Code-d.com: The Surf Movie

Smurf di Wikipedia

Emotional Blackmail Perasaan Bersalah (part 3)

Pada nomor ini kita akan membahas bentuk ketiga dari emotional blackmail dengan cara menciptakan rasa bersalah.

Dalam konteks pekerjaan, emotional blackmail ini sering terjadi. Misalnya, ada seorang manager yang punya keahlian untuk membuat anak buahnya merasa bersalah jika mereka pulang cepat, padahal sesuai dengan jam kantor, mereka sebenarnya juga sudah bisa pulang, lagipula tidak ada pekerjaan yang terlalu mendesak untuk dilakukan sehingga harus lembur. Dengan sengaja, biasanya si manager akan menanamkan semangat yang ia sebut willingness to do more (keinginan bekerja lebih), yang baginya berarti bersedia tinggal lebih lama di kantor.

Bahkan, dalam berbagai pertemuan, ia sengaja menanamkan semangat bahwa mereka yang ingin karirnya maju harus bersedia mengorbankan waktu pribadi demi kemajuan kantor. la pun berharap anak buahnya seperti dirinya yang sering pulang malam. Menurutnya, itulah semangat tim untuk saling berkorban. Karena sikapnya, ia sengaja membuat anak buahnya yang pulang cepat merasa sebagai orang yang egois dan kurang perform, kurang berprestasi. Para anak buahnya sungguh merasa bersalah, kalau mereka pulang on time. Ini menjadi semacam budaya di tempat itu.

Contoh lain lagi: Ketika suatu perusahaan gagal mendapatkan suatu tender, seorang pimpinan menciptakan rasa bersalah pada sekelompok salesmen. Mereka dituding dengan email terbuka bahwa mereka gagal menjadi prajurit yang diharapkan menjadi tulang punggung perusahaan. Para salesmen dianggap bertanggung jawab atas kegagalan tender yang menentukan masa depan perusahaan.

Di tempat yang lain lagi, ada seorang sekretaris baru yang menghadapi masalah dilematis. la merasa terjepit dengan rekan-rekan barunya yang punya hobi dugem. la yang kurang suka pergi ke cafe setelah jam kantor dibuat merasa minder dan merasa bersalah karena dianggap kurang mau berbaur dan angkuh. Beberapa kali ia mencoba mengikuti teman-temannya, tapi lama kelamaan, ia pun merasa kurang betah. la mulai menolak ikut aktivitas teman-temannya itu, tetapi akibatnya ia digosipi dan dijauhi. Bahkan, ada seorang rekan kerjanya yang baru secara terang-terangan menuduh dirinya kurang solider dan kurang mau bergaul dengan lingkungan.

Kita akan menemukan para ahli emotional blackmail yang memang ulung mempermainkan rasa bersalah, rasa menyesal, sehingga kita dengan sangat terpaksa mengikuti kemauan mereka. Dilemanya, setelah kita melakukan apa yang mereka inginkan, kita juga merasa menyesal karena melakukannya.

Untuk menghadapi emotional blackmail seperti itu, entah di tempat kerja maupun di dalam kehidupan kita sehari-hari, tips berikut akan membantu kita:

1. Kenalilah para penggemar emotional blackmail serta kalimat-kalimatyang biasa mereka ucapkan. Cobalah untuk peka apabila mereka mutai melancarkan aksinya dengan menggunakan kalimat-kalimat yang membuatAnda merasa bersalah, malu maupun menyesal. Kenalilah kalimat mereka, khususnya jika mereka meminta Anda untuk melakukan sesuatu demi mendapatkan penghargaan, penerimaan, atau cinta dari mereka.

2. Miliki prinsip. Artinya, ketahui, sadari dan tanyakan kepada diri Anda, apakah permintaan mereka masih wajar, ataukah tidak perlu dihiraukan. Kadangkala, mereka tidak peduli dengan prinsip serta menghalalkan berbagai cara agar keinginan mereka terwujud, termasuk dengan menakuti ataupun membuat Anda merasa bersalah. Berpeganglah pada prinsip Anda.

3. Ketahuilah bahwa Anda tidak perlu harus selalu mengikuti aturan mereka. Terkadang, para penggemar emotional blackmail adalah manusia yang egois. Cobalah untuk tidak melakukan apa pun yang mereka minta, dan Anda akan menyaksikan bahwa intensitas ancaman mereka akan semakin tinggi. Tapi setelah Anda tidak melakukan apa pun, semuanya akan kembali baik-baik saja. Mereka memperoleh kepuasan dengan menciptakan rasa bersalah. Jangan terjebak dengan permainan mereka.

Saya berharap, dengan mengikuti tips ini Anda akan terhindar dari hubungan yang justru mempermiskin dan menyedot emosi Anda. Be emotionally intelligent.

Oleh:

Anthony Dio Martin, Spsi, MBA

From Smart Emotion Volume 1

Image from: http://www.wildriverreview.com

Emotional Blackmail, Perasaan Kewajiban (Part 2)

Selain dengan memanipulasi rasa takut kita, orang yang suka melakukan emotional blackmail juga bisa mempermainkan perasaan kita bahwa kita punya utang budi, dan karena itu memiliki kewajiban tertentu. Kali ini kita akan membicarakan bentuk kedua dari emotional blackmail ini.

Sebagai hypnoterapist dan trainer di bidang kecerdasan emosional, saya pernah menangani masalah seorang klien peserta pelatihan saya. Latar belakangnya menarik. Karena kondisi ekonominya yang buruk, sejak kecil ia dititipkan untuk tinggal dengan tantenya. Tantenya membawanya dari kampungnya di Sumatra, lalu membesarkan dia di Jakarta.

Setelah tamat dari IKIP, klien saya itu menjadi guru di suatu SMP. Sebagai balas budi terhadap keluarga yang membesarnya, ia harus rela membagi gajinya yang tidak seberapa kepada tantenya itu. Sebenarnya ia tidak berkeberatan membagikan gajinya kepada tantenya yang seringkali ia panggil “mami” itu, namun ia tahu bahwa uang itu selalu diberikan kepada anak tunggal “mami” itu, yang selalu hidup berfoya-foya di Bandung.

Beberapa kali ia memprotes, tapi setiap kali diprotes, mami angkatnya selalu mengatakan, “Dasar, tidak tahu berterimakasih.”

“Mami” itu bahkan suka menuduh bahwa klien saya itu sengaja mencari alasan untuk tidak membagikan gajinya. Beberapa teman pria yang datang ke rumahnya pernah diusir oleh “mami” itu.

Bahkan oleh “mami” itu ia diminta untuk lebih banyak memfokuskan waktu untuk menemani “mami” dan “papi” angkatnya yang sudah tua. Ke-giatan pelayanan yang disukainya pun terpaksa ditangguhkan.

Pernah suatu kali, karena tidak tahan lagi, ia meninggalkan rumah, lalu ia pindah ke kost-kostan, namun semenjak ia pergi, tiap malam ia diteror dengan sms dan telepon. Isinya, “Mentang-mentang sudah sukses jadi guru, tidak ingat lagi dengan keluarga yang membesarkan.” Guru tersebut jadi merasa begitu bersalah dan ujung-ujungnya, ia pun terpaksa kembali lagi ke rumah mami dan papi angkatnya tersebut, untuk disiksa batinnya. Di akhir kisah ini, ia pun sadar bahwa dirinya tidak harus membalas kebaikan keluarga angkatnya dengan cara mengorbankan dirinya terus-menerus. la bisa membalas dengan cara lain di kemudian hari.

Kisah guru di atas mencerminkan bagaimana suatu manipulasi emosi bisa dilakukan dengan menciptakan dalam diri kita suatu rasa berkewajiban. Hal ini bisa terjadi dalam berbagai konteks, termasuk di kantor. Ada bos yang mengatakan kepada anak buahnya untuk merahasiakan suatu kecurangan, dengan menunjukkan bahwa dia telah berjasa karena telah mempromosikan anak buahnya itu ke posisinya sekarang. Sambil memperkecil makna kecurangannya, dia minta tolong kepada anak buahnya itu, demi suatu rasa utang budi terhadap jasa yang telah dia lakukan sebelumnya.

Cara kerja bentuk emotional blackmail ini sederhana sekali. Kalau Anda menjadi korbannya, seseorang akan minta kepada Anda untuk melakukan sesuatu sebagai balasan atas jasa yang pernah dia buat. Seseorang bisa saja minta dipinjami uang, dengan menunjukkan secara langsung atau tidak langsung, bahwa jasa yang pernah dia buat lebih besar daripada uang yang akan dia pinjam. Bisa juga, seorang rekan minta suara dukungan dalam voting untuk menjadi kepala koperasi di perusahaannya.

Formulasinya bisa bermacam-macam, tapi kurang lebih akan seperti ini: “Tolong mendukung saya untuk jadi kepala koperasi di sini. Saya butuh tambahan penghasilan. Kamu tahu, anak saya empat. Kalau tak terpaksa, saya tak akan pernah minta tolong sampai seperti ini. Lagi pula, wajarlah kita saling tolong-menolong, sama seperti yang saya lakukan tempo dulu, ketika saya mengupayakan tanda tangan untuk mendukung promosimu. Tolonglah. Bantulah saya!” Kalau dia memang kompeten, Anda pasti dengan suka rela mendukungnya. Tapi, orang yang mengincar posisi tertentu dan minta dukungan dengan menggunakan emotional blackmail seperti itu biasanya justru tidak kompeten, maka muncullah situasi dilematis bagi Anda.

Perhatikanlah bagaimana contoh-contoh di atas menggambarkan teknik manipulasi dengan menciptakan perasaan kewajiban. Anda merasa wajib menolong karena pernah dibantu. Anda merasa wajib memberi karena utang budi di masa lalu. Anda merasa wajib melakukan sesuatu karena Anda disudutkan untuk merasa bahwa itulah harus Anda lakukan.

Untuk menghadapi orang yang suka menggunakan emotional blackmail dengan teknik ini, ada tips buat Anda. Caranya mudah, yaitu lakukan apa yang oleh para terapis emosi disebut dengan teknik S-O-S. S-O-S adalah singkatan dari: Stop (hentikan) Observe (perhatikan) Strategize (buat strategi).

Langkah pertama, stop dan pikirkan. Pikirkan apakah yang dikatakan betul-betul rasional. Jangan bereaksi terfalu cepat, tapi cobalah ambil waktu untuk berpikir. Kalau perlu katakan kepada orang tersebut, “Oke, aku mengerti apa yang kamu katakan. Akan kupikirkan dulu sebelum menjawab permintaanmu.”

Langkah kedua, observe, perhatikan. Maksudnya, perhatikan bahwa di balik ungkapannya pasti ada pengandaian. Misal pengandaian itu bisa saja berbunyi: “Seorang anak buah harus selalu membalas kebaikan atasan yang mempromosikannya dengan mengikuti apa pun kata bos.” Perhatikan, apakah memang pengandaian itu benar? Setiap orang memang sepantasnya membalas kebaikan, tetapi apakah cara membalasnya dengan “mengikuti apa pun kata si bos?” Perhatikan apa prinsip-prinsip yang dilanggar atau akibat buruk yang akan terjadi di kemudian hari jika permintaan yang disodorkan kepada Anda dituruti.

Langkah ketiga, strategize. Buatlah strategi bagaimana Anda hams berkata dan bersikap. Jika Anda tidak setuju dengan pernyataannya, buatlah strategi menangkis pernya
taan bos Anda. Jelaskan bagaimana balas budi kepada bos bukan berarti melakukan apa pun. Ada banyak alternatif untuk membalas kebaikan bos selain dengan cara-cara yang menyengsarakan batin Anda. Bahkan kita bisa menantang bicara bos yang menggunakan teknik ini dengan mengetuk hati nuraninya. Bagaimana tega membuat anak buahnya semakin sengsara? Bagaimana tega seorang bos yang baik menyuruh anak buahnya berbohong demi suatu hubungan?

Waspadalah, jangan sampai Anda dimanfaatkan oleh para pelaku emotional blackmail ini untuk menyetujui atau membiarkan perilaku tidak terpuji, manipulatif dan tidak manusiawi terus berlanjut. Be emotionally intelligent.

Oleh:

Anthony Dio Martin, Spsi, MBA

From Smart Emotion Volume 1

image by

Rudolf Kopitz – Heavy Burden,