Emotional Blackmail Perasaan Bersalah (part 3)

Pada nomor ini kita akan membahas bentuk ketiga dari emotional blackmail dengan cara menciptakan rasa bersalah.

Dalam konteks pekerjaan, emotional blackmail ini sering terjadi. Misalnya, ada seorang manager yang punya keahlian untuk membuat anak buahnya merasa bersalah jika mereka pulang cepat, padahal sesuai dengan jam kantor, mereka sebenarnya juga sudah bisa pulang, lagipula tidak ada pekerjaan yang terlalu mendesak untuk dilakukan sehingga harus lembur. Dengan sengaja, biasanya si manager akan menanamkan semangat yang ia sebut willingness to do more (keinginan bekerja lebih), yang baginya berarti bersedia tinggal lebih lama di kantor.

Bahkan, dalam berbagai pertemuan, ia sengaja menanamkan semangat bahwa mereka yang ingin karirnya maju harus bersedia mengorbankan waktu pribadi demi kemajuan kantor. la pun berharap anak buahnya seperti dirinya yang sering pulang malam. Menurutnya, itulah semangat tim untuk saling berkorban. Karena sikapnya, ia sengaja membuat anak buahnya yang pulang cepat merasa sebagai orang yang egois dan kurang perform, kurang berprestasi. Para anak buahnya sungguh merasa bersalah, kalau mereka pulang on time. Ini menjadi semacam budaya di tempat itu.

Contoh lain lagi: Ketika suatu perusahaan gagal mendapatkan suatu tender, seorang pimpinan menciptakan rasa bersalah pada sekelompok salesmen. Mereka dituding dengan email terbuka bahwa mereka gagal menjadi prajurit yang diharapkan menjadi tulang punggung perusahaan. Para salesmen dianggap bertanggung jawab atas kegagalan tender yang menentukan masa depan perusahaan.

Di tempat yang lain lagi, ada seorang sekretaris baru yang menghadapi masalah dilematis. la merasa terjepit dengan rekan-rekan barunya yang punya hobi dugem. la yang kurang suka pergi ke cafe setelah jam kantor dibuat merasa minder dan merasa bersalah karena dianggap kurang mau berbaur dan angkuh. Beberapa kali ia mencoba mengikuti teman-temannya, tapi lama kelamaan, ia pun merasa kurang betah. la mulai menolak ikut aktivitas teman-temannya itu, tetapi akibatnya ia digosipi dan dijauhi. Bahkan, ada seorang rekan kerjanya yang baru secara terang-terangan menuduh dirinya kurang solider dan kurang mau bergaul dengan lingkungan.

Kita akan menemukan para ahli emotional blackmail yang memang ulung mempermainkan rasa bersalah, rasa menyesal, sehingga kita dengan sangat terpaksa mengikuti kemauan mereka. Dilemanya, setelah kita melakukan apa yang mereka inginkan, kita juga merasa menyesal karena melakukannya.

Untuk menghadapi emotional blackmail seperti itu, entah di tempat kerja maupun di dalam kehidupan kita sehari-hari, tips berikut akan membantu kita:

1. Kenalilah para penggemar emotional blackmail serta kalimat-kalimatyang biasa mereka ucapkan. Cobalah untuk peka apabila mereka mutai melancarkan aksinya dengan menggunakan kalimat-kalimat yang membuatAnda merasa bersalah, malu maupun menyesal. Kenalilah kalimat mereka, khususnya jika mereka meminta Anda untuk melakukan sesuatu demi mendapatkan penghargaan, penerimaan, atau cinta dari mereka.

2. Miliki prinsip. Artinya, ketahui, sadari dan tanyakan kepada diri Anda, apakah permintaan mereka masih wajar, ataukah tidak perlu dihiraukan. Kadangkala, mereka tidak peduli dengan prinsip serta menghalalkan berbagai cara agar keinginan mereka terwujud, termasuk dengan menakuti ataupun membuat Anda merasa bersalah. Berpeganglah pada prinsip Anda.

3. Ketahuilah bahwa Anda tidak perlu harus selalu mengikuti aturan mereka. Terkadang, para penggemar emotional blackmail adalah manusia yang egois. Cobalah untuk tidak melakukan apa pun yang mereka minta, dan Anda akan menyaksikan bahwa intensitas ancaman mereka akan semakin tinggi. Tapi setelah Anda tidak melakukan apa pun, semuanya akan kembali baik-baik saja. Mereka memperoleh kepuasan dengan menciptakan rasa bersalah. Jangan terjebak dengan permainan mereka.

Saya berharap, dengan mengikuti tips ini Anda akan terhindar dari hubungan yang justru mempermiskin dan menyedot emosi Anda. Be emotionally intelligent.

Oleh:

Anthony Dio Martin, Spsi, MBA

From Smart Emotion Volume 1

Image from: http://www.wildriverreview.com

Advertisements

5 thoughts on “Emotional Blackmail Perasaan Bersalah (part 3)

  1. roelworks said: Kadangkala, mereka tidak peduli dengan prinsip serta menghalalkan berbagai cara agar keinginan mereka terwujud,

    CLURIT TERBAAAANNGG !!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s