Emotional Blackmail Perasaan Ketakutan (Part I)

Kali ini kita akan membahas mengenai emotional blackmail. Susan Forward dan Donna Frasir, doktor dan terapis, yang banyak meneliti soal ini menyatakan bahwa emotional blackmail adalah sebentuk komunikasi yang manipulatif sifatnya. Kita akan membahas topik ini, agar bisa menghindar, dan tidak menjadi korban dari mereka yang suka memanipulasi dengan menggunakan teknik ini.

Rekan saya, seorang kartunis, pernah bercerita tentang seorang mantan pacarnya yang sangat ahli dalam urusan emotional blackmail ini. Suatu kali, rekan saya ini tidak dapat menjemput pacarnya itu lantaran ada desain kreatif yang harus ia kerjakan. la menelpon pacarnya untuk memberitahu bahwa ia tak bisa menjemputnya. Beginilah reaksi sang pacar, “Ya udah, nggak apa-apa kok. Aku akan naik bis aja. Nggak apa-apa…, kan cuma hujan air. Apa pun yang terjadi padaku gak usah kamu hiraukan deh. Mau dirampok kek, mau diapa-apain kek, kan bukan urusanmu? Lagian, status kita kan baru pacaran. BetuI nggak?”

Bayangkan bagaimana perasaan rekan saya tersebut, menghadapi pacarnya. Anda bisa menebak akhir dari cerita tersebut. Malam itu, dengan berat hati rekan saya harus membawa kendaraannya untuk menjemput sang pacar… dengan rasa bersalah, sekaligus jengkel.

Para pembaca, pacar rekan saya tersebut melontarkan suatu taktik komunikasi emosiona! yang disebut emotional blackmail. Mereka yang ahli dalam hal ini berusaha menciptakan beberapa jenis emosi pada diri kita melalui kata-kata mereka. Mereka berusaha menanamkan tiga jenis emosi pada diri kita, yakni rasa takut, rasa berkewajiban, ataupun rasa bersalah yang berkepanjangan jika kita gagal, tidak mau, maupun tidak berhasil melakukan sesuatu yang mereka minta.

Bentuk pertama dari emotional blackmail dimaksudkan untuk menciptakan rasa takut pada diri kita. Contohnya barangkali sering Anda alami. Misalnya, sebuah surat berantai yang pernah saya terima. Bunyinya menyeramkan: “Jika kamu tidak menyalin surat ini 10x dan menyebarkannya lagi dalam waktu 24 jam, hidupmu akan celaka. Jika kamu naik kendaraan, kamu akan tabrakan, Jika kamu berenang, kamu akan dimakan buaya, dan masih banyak ancaman lainnya.”

Seorang rekan saya yang pernah menerima surat berantai seperti itu menyalinnya sampai berpuluh-puluh kali. Meskipun kesal hati, ia melakukan hal itu karena takut jangan-jangan akan bernasib sial bila ia tidak menyebarkan surat itu.

Contoh lain adalah kisah klasik seorang remaja yang menulis surat bagaimana ia terpaksa menyerahkan keperawanannya. la bercerita bahwa pacarnya mengancam.

Jika ia tidak mau berhubungan intim, pacarnya akan memutuskan hubungan. la menjadi begitu ketakutan jangan-jangan pacarnya betul-betul pergi. Masalahnya, untuk mendapatkan pacarnya itu, ia harus bersaing dengan begitu banyakgadis lain.

Emotional blackmail juga bisa berlangsung di kantor. Seorang sekretaris membiarkan bossnya memperlakukan dirinya dengan semena-mena. la mengalami pelecehen seksual oleh bossnya. Masalahnya, bossnya selalu mengancam, jika ia berani bilang kepada orang lain, maka hidupnya akan sengsara. la diancam akan kehilangan pekerjaan dan jadi pengangguran. la pun diingatkan bahwa tidak ada yang mau menerimanya karena dirinya sebenarnya tidak kompeten.

Para pembaca, perhatikan bagaimana rasa takut diciptakan sebagai sebuah senjata ampuh untuk me-manipulasi seseorang untuk bertindak. Untuk menghadapi mereka yang melakukan emotional blackmail kepada Anda, ada tips untuk Anda, yaitu beranilah untuk menguji ancaman tersebut. Jika Anda menyerah untuk dikendalikan orang lain dengan cara itu, selamanya Anda akan menjadi korban. Cobalah untuk menguji. Misalnya soal surat berantai tadi, Coba, jangan menyebarkannya dan lihat akibatnya selama 24 jam. Jika tidak terjadi apa pun berarti memang tidak ada apa-apa. Beranilah menempuh risiko, untuk memutuskan rantai belenggu ketakutan emosional yang dilakukan oleh tukang emotional blackmail. Dengan demikian, mereka tidak akan berani sembarangan mengancam Anda.

Jangan sampai Anda mudah dikendalikan oleh orang-orang yang senang mempermainkan ketakutan Anda. Dengan demikian Anda akan mampu meretas belenggu rantai ketakutan yang melemahkan potensi Anda. Be emotionally intelligent

Oleh:

Anthony Dio Martin, Spsi, MBA

From Smart Emotion Volume 1


Advertisements

19 thoughts on “Emotional Blackmail Perasaan Ketakutan (Part I)

  1. roelworks said: “Ya udah, nggak apa-apa kok. Aku akan naik bis aja. Nggak apa-apa…, kan cuma hujan air. Apa pun yang terjadi padaku gak usah kamu hiraukan deh. Mau dirampok kek, mau diapa-apain kek, kan bukan urusanmu? Lagian, status kita kan baru pacaran. BetuI nggak?”

    “betul sayang. lagian jaman sekarang yah, hare geneeeeee…ada yg namanya taksi. silahkan pulang yah sayang, ati2 di jalan. lumayan kan ilang pacar 1, tar pacarku tinggal 9 dong…ganjil gak bagus sayang”

  2. fickleboon said: “betul sayang. lagian jaman sekarang yah, hare geneeeeee…ada yg namanya taksi. silahkan pulang yah sayang, ati2 di jalan. lumayan kan ilang pacar 1, tar pacarku tinggal 9 dong…ganjil gak bagus sayang”

    sadeeez

  3. roelworks said: “Ya udah, nggak apa-apa kok. Aku akan naik bis aja. Nggak apa-apa…, kan cuma hujan air. Apa pun yang terjadi padaku gak usah kamu hiraukan deh. Mau dirampok kek, mau diapa-apain kek, kan bukan urusanmu? Lagian, status kita kan baru pacaran. BetuI nggak?”

    “Ya iyalah, dah tau nanya….udah gih sana pulang ndiri, besok jgn tlp2 gue lagi ya……..”

  4. Thx Roel, yang terjadi padaku dia pake ayat2 Quran, dia ngemis2, bilang anaknya diopname ga bisa keluar…. Btw ke depan aku mo lebih ati2 deh…

  5. hihihi… iya tuh..gw juga klo dah kesel ngliat kelakuan anak2..diem aja, manyun munggungin mereka..dan akhirnya mereka salting sendiri.deket2..minta maaf..sayang2..peluk2…dan abis itu berulah kembali… ^_^;;

  6. hahaha…waduh emotional blackmail ini emang salah 1 senjata wanita yg paling ampuh mas…tp kalo soal surat/email berantai sih sorry…biasa lgs masuk trash bin/folder sih…nasib di tangan Tuhan lah…bkn ditangan 1 email/surat

  7. bener-bener roel memang…. ada jg gw pernah baca sebuah riset, ya gini deh hasil kerja kedua belahan otak yang normal… verbal itu masuk ke otak kiri, makna masuk ke otak kanan… risetnya waktu itu, otak sebelah kanan sengaja tidak difungsikan sebentar.. hasilnya kata-kata doang yang bisa dicerna, tapi emosionalnya nggak…

  8. ogieurvil said: bener-bener roel memang…. ada jg gw pernah baca sebuah riset, ya gini deh hasil kerja kedua belahan otak yang normal… verbal itu masuk ke otak kiri, makna masuk ke otak kanan… risetnya waktu itu, otak sebelah kanan sengaja tidak difungsikan sebentar.. hasilnya kata-kata doang yang bisa dicerna, tapi emosionalnya nggak…

    Ini lebih “memang” lagi analisanya ..gue ampe baca 3 kali biar mudeng …

  9. roelworks said: Ini lebih “memang” lagi analisanya ..gue ampe baca 3 kali biar mudeng …

    udah mudeng blom Roel…?kasih tau gw dong… ^^;;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s