Emotional Blackmail, Perasaan Kewajiban (Part 2)

Selain dengan memanipulasi rasa takut kita, orang yang suka melakukan emotional blackmail juga bisa mempermainkan perasaan kita bahwa kita punya utang budi, dan karena itu memiliki kewajiban tertentu. Kali ini kita akan membicarakan bentuk kedua dari emotional blackmail ini.

Sebagai hypnoterapist dan trainer di bidang kecerdasan emosional, saya pernah menangani masalah seorang klien peserta pelatihan saya. Latar belakangnya menarik. Karena kondisi ekonominya yang buruk, sejak kecil ia dititipkan untuk tinggal dengan tantenya. Tantenya membawanya dari kampungnya di Sumatra, lalu membesarkan dia di Jakarta.

Setelah tamat dari IKIP, klien saya itu menjadi guru di suatu SMP. Sebagai balas budi terhadap keluarga yang membesarnya, ia harus rela membagi gajinya yang tidak seberapa kepada tantenya itu. Sebenarnya ia tidak berkeberatan membagikan gajinya kepada tantenya yang seringkali ia panggil “mami” itu, namun ia tahu bahwa uang itu selalu diberikan kepada anak tunggal “mami” itu, yang selalu hidup berfoya-foya di Bandung.

Beberapa kali ia memprotes, tapi setiap kali diprotes, mami angkatnya selalu mengatakan, “Dasar, tidak tahu berterimakasih.”

“Mami” itu bahkan suka menuduh bahwa klien saya itu sengaja mencari alasan untuk tidak membagikan gajinya. Beberapa teman pria yang datang ke rumahnya pernah diusir oleh “mami” itu.

Bahkan oleh “mami” itu ia diminta untuk lebih banyak memfokuskan waktu untuk menemani “mami” dan “papi” angkatnya yang sudah tua. Ke-giatan pelayanan yang disukainya pun terpaksa ditangguhkan.

Pernah suatu kali, karena tidak tahan lagi, ia meninggalkan rumah, lalu ia pindah ke kost-kostan, namun semenjak ia pergi, tiap malam ia diteror dengan sms dan telepon. Isinya, “Mentang-mentang sudah sukses jadi guru, tidak ingat lagi dengan keluarga yang membesarkan.” Guru tersebut jadi merasa begitu bersalah dan ujung-ujungnya, ia pun terpaksa kembali lagi ke rumah mami dan papi angkatnya tersebut, untuk disiksa batinnya. Di akhir kisah ini, ia pun sadar bahwa dirinya tidak harus membalas kebaikan keluarga angkatnya dengan cara mengorbankan dirinya terus-menerus. la bisa membalas dengan cara lain di kemudian hari.

Kisah guru di atas mencerminkan bagaimana suatu manipulasi emosi bisa dilakukan dengan menciptakan dalam diri kita suatu rasa berkewajiban. Hal ini bisa terjadi dalam berbagai konteks, termasuk di kantor. Ada bos yang mengatakan kepada anak buahnya untuk merahasiakan suatu kecurangan, dengan menunjukkan bahwa dia telah berjasa karena telah mempromosikan anak buahnya itu ke posisinya sekarang. Sambil memperkecil makna kecurangannya, dia minta tolong kepada anak buahnya itu, demi suatu rasa utang budi terhadap jasa yang telah dia lakukan sebelumnya.

Cara kerja bentuk emotional blackmail ini sederhana sekali. Kalau Anda menjadi korbannya, seseorang akan minta kepada Anda untuk melakukan sesuatu sebagai balasan atas jasa yang pernah dia buat. Seseorang bisa saja minta dipinjami uang, dengan menunjukkan secara langsung atau tidak langsung, bahwa jasa yang pernah dia buat lebih besar daripada uang yang akan dia pinjam. Bisa juga, seorang rekan minta suara dukungan dalam voting untuk menjadi kepala koperasi di perusahaannya.

Formulasinya bisa bermacam-macam, tapi kurang lebih akan seperti ini: “Tolong mendukung saya untuk jadi kepala koperasi di sini. Saya butuh tambahan penghasilan. Kamu tahu, anak saya empat. Kalau tak terpaksa, saya tak akan pernah minta tolong sampai seperti ini. Lagi pula, wajarlah kita saling tolong-menolong, sama seperti yang saya lakukan tempo dulu, ketika saya mengupayakan tanda tangan untuk mendukung promosimu. Tolonglah. Bantulah saya!” Kalau dia memang kompeten, Anda pasti dengan suka rela mendukungnya. Tapi, orang yang mengincar posisi tertentu dan minta dukungan dengan menggunakan emotional blackmail seperti itu biasanya justru tidak kompeten, maka muncullah situasi dilematis bagi Anda.

Perhatikanlah bagaimana contoh-contoh di atas menggambarkan teknik manipulasi dengan menciptakan perasaan kewajiban. Anda merasa wajib menolong karena pernah dibantu. Anda merasa wajib memberi karena utang budi di masa lalu. Anda merasa wajib melakukan sesuatu karena Anda disudutkan untuk merasa bahwa itulah harus Anda lakukan.

Untuk menghadapi orang yang suka menggunakan emotional blackmail dengan teknik ini, ada tips buat Anda. Caranya mudah, yaitu lakukan apa yang oleh para terapis emosi disebut dengan teknik S-O-S. S-O-S adalah singkatan dari: Stop (hentikan) Observe (perhatikan) Strategize (buat strategi).

Langkah pertama, stop dan pikirkan. Pikirkan apakah yang dikatakan betul-betul rasional. Jangan bereaksi terfalu cepat, tapi cobalah ambil waktu untuk berpikir. Kalau perlu katakan kepada orang tersebut, “Oke, aku mengerti apa yang kamu katakan. Akan kupikirkan dulu sebelum menjawab permintaanmu.”

Langkah kedua, observe, perhatikan. Maksudnya, perhatikan bahwa di balik ungkapannya pasti ada pengandaian. Misal pengandaian itu bisa saja berbunyi: “Seorang anak buah harus selalu membalas kebaikan atasan yang mempromosikannya dengan mengikuti apa pun kata bos.” Perhatikan, apakah memang pengandaian itu benar? Setiap orang memang sepantasnya membalas kebaikan, tetapi apakah cara membalasnya dengan “mengikuti apa pun kata si bos?” Perhatikan apa prinsip-prinsip yang dilanggar atau akibat buruk yang akan terjadi di kemudian hari jika permintaan yang disodorkan kepada Anda dituruti.

Langkah ketiga, strategize. Buatlah strategi bagaimana Anda hams berkata dan bersikap. Jika Anda tidak setuju dengan pernyataannya, buatlah strategi menangkis pernya
taan bos Anda. Jelaskan bagaimana balas budi kepada bos bukan berarti melakukan apa pun. Ada banyak alternatif untuk membalas kebaikan bos selain dengan cara-cara yang menyengsarakan batin Anda. Bahkan kita bisa menantang bicara bos yang menggunakan teknik ini dengan mengetuk hati nuraninya. Bagaimana tega membuat anak buahnya semakin sengsara? Bagaimana tega seorang bos yang baik menyuruh anak buahnya berbohong demi suatu hubungan?

Waspadalah, jangan sampai Anda dimanfaatkan oleh para pelaku emotional blackmail ini untuk menyetujui atau membiarkan perilaku tidak terpuji, manipulatif dan tidak manusiawi terus berlanjut. Be emotionally intelligent.

Oleh:

Anthony Dio Martin, Spsi, MBA

From Smart Emotion Volume 1

image by

Rudolf Kopitz – Heavy Burden,


Advertisements

9 thoughts on “Emotional Blackmail, Perasaan Kewajiban (Part 2)

  1. roelworks said: Nggak semua orang juga dimuka tembokin,kan ?

    hanya untuk orang orang yang ga tau diri aja mas muka tembok saya.. sisanya muka manis heheheheh

  2. roelworks said: Jika Anda tidak setuju dengan pernyataannya, buatlah strategi menangkis pernyataan bos Anda. Jelaskan bagaimana balas budi kepada bos bukan berarti melakukan apa pun. Ada banyak alternatif untuk membalas kebaikan bos selain dengan cara-cara yang menyengsarakan batin Anda.

    kalo bilang.. “Sebagai Boss yang MEMANG mestinya boss gak boleh gitu….” mempan gak yah ??

  3. ogieurvil said: kalo bilang.. “Sebagai Boss yang MEMANG mestinya boss gak boleh gitu….” mempan gak yah ??

    Gini aja…gue tahu sih ..elu memang sibug banget …nggak enak gue minta lu macem-macem …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s