Don’t Argue with God

Klik gambar untuk perbesar

Diambil dari postingnya ibu ini,
Terus gue modify dan gue gabungin aja …dan gue ganti judulnya.
Somehow it’s feels like an answer to some of my doubts

Advertisements

Pribadi Perfeksionis, Positif Atau Negatif?

Di era globalisasi yang penuh persaingan ini, perlukah orangtua mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang perfeksionis? Apa efeknya bagi
anak-anak itu setelah dewasa? Puaskah mereka atau bahagiakah mereka dengan prestasi yang dicapai?

Suatu siang di sebuah kantin SMP terdengar ucapan, “Aku heran, deh,
kenapa dulu semasa masih bersekolah orangtuaku merasa puas jika mendapat
nilai B atau C. Dan tidak dimarahi orangtua atau gurunya,” ujar seorang
murid yang sedang duduk makan slang. Ucapannya itu disetujui oleh lima
temannya yang duduk semeja. “Tetapi sekarang orangtuaku menuntut aku
untuk selalu mendapat nilai A. Tidak adil, kan?” Lagi-lagi kelima
temannya mengangguk. Ini merupakan keluhan umum para murid akhir-akhir
ini di Amerika.

Seorang psikolog, Randy 0. Frost, yang juga guru besar di Smith College,
Amerika, mensinyalir bahwa dalam 20 tahun terakhir ini terjadi
peningkatan perfeksionisme di Amerika. Tidak saja terjadi di kalangan
bisnis dan pemerintahan, tetapi yang jelas terjadi di kalangan
pendidikan. Para guru di sekolah-sekolah menuntut murid-muridnya untuk
menguasai semua mata pelajaran dengan sempurna. Para orangtua menuntut
anak-anak mereka harus mendapat nilai A. Tugas-tugas harus dilakukan
dengan sempurna. Kalau tidak, akan kena marah.

Sikap para guru, orangtua, dan atasan mencerminkan sikap perfeksionisme
yang akhir-akhir ini makin nyata. Mengapa begitu? Apakah peningkatan ini
dianggap positif atau negatif oleh para ahli?

Perfeksionis, Serba Sempurna?

Seorang perfeksionis menganggap bahwa segala sesuatu harus dikerjakan
dengan serius dan sempurna, tidak boleh ada kesalahan, tidak boleh
asal-asalan, tidak boleh ada cacat. Mengapa perfeksionis meningkat?
Menurut para ahli, persaingan di dunia kerja semakin ketat. Karena itu
dibutuhkan orang-orang dengan kualitas yang sempurna. Para orangtua yang
menyadari hal ini, tentu saja akan menekan anak-anaknya untuk belajar
keras, menjadi yang terbaik di kelas dengan nilai selalu A.

Belakangan para ahli juga mulai menyadari bahwa seorang perfeksionis itu
bisa diciptakan, bukan bawaan sejak lahir. Para perfeksionis dibentuk
sejak kecil. Orangtua menuntut anak-anaknya belajar dengan serius untuk
mendapat nilai A. Para guru pun demikian. Selain bertujuan untuk
bersaing kelak di dunia kerja, juga bertujuan mendongkrak status sekolah
maupun gengsi para orangtua murid. Dengan sendirinya, semua itu
berakibat pada semakin meningkatnya tekanan-tekanan pada anak-anak.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa orangtua yang terlalu mengkritik dan
terlalu menuntut anak-anaknya untuk menjadi yang terbaik, akan cenderung
membuat anak-anak tersebut menjadi perfeksionis,” tutur Randy. “Demikian
juga orangtua yang selalu takut bersalah, akan mencetak anak-anak yang
serupa.” Seperti kata pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya atau
like father like son, like mother like daughter

Perfeksionisme yang ditanamkan sejak kanak-kanak, merembes dan mengendap
dalam jiwa anak-anak dan membentuk pola pikir dan kepribadian khusus.
Perfeksionisme menjadikan anak-anak tumbuh menjadi orang yang serius,
tak ada kegembiraan hidup, tak ada keharmonisan penguasaan ilmu
pengetahuan. “Jika Anda hanya fokus pada prestasi dan mempertahankan
diri agar selalu menjadi yang terbaik, maka Anda tidak akan fokus pada
mempelajari tugas-tugas Anda secara manusiawi. Yang Anda ingat hanya
prestasi diri,” kata Randy. Karena itu perfeksionisme juga menghambat
kreativitas dan inovasi.

Kenyataannya, perfeksionisme sumber emosi negatif. Karena memfokuskan
pada hal-hal yang paling ingin dihindari (jangan kalah, jangan gagal,
dll.), menimbulkan frustrasi yang berkepanjangan, rasa bersalah,
depresi, dan emosi-emosi negatif lainnya. Baik pada atasan/orangtua/guru
maupun pada murid/pegawai. Ibarat pisau bermata dua, perfeksionis
melukai dua pihak, yaitu si perfeksionis di satu sisi dan bawahannya /
anaknya. Sisi negatif yang selalu aktual, tercermin pada banyaknya murid
sekolah yang bunuh diri di Jepang. Alasan utama mereka adalah tidak naik
kelas, rapor yang buruk, bahkan lulusan SMU yang tidak diterima di
universitas yang diincarnya. Banyak pula pejabat Jepang yang melakukan
harakiri karena merasa gaga) dalam tugasnya.

Di lingkungan pendidikan, perfeksionisme akhirnya menjadi semacam
kontrol para orangtua terhadap anak-anaknya. Dan kontrol ini semakin
meningkat di era globalisasi ekonomi sekarang ini. Demikian pendapat
para ahli.

Excellence Vs Perfection

“Ada perbedaan antara excellence dan perfection,” kata Miriam Adderholdt
, instruktur psikologi di Davidson Community College, Lexington, North
Caroline, yang juga penulis buku Perfectionism: What’s a Bad About Being
Too Good? Keduanya berujung pada hasil terbaik. Dalam kata excellence
(keunggulan) tersirat perasaan menikmati apa yang Anda lakukan, kemudian
merasa senang dengan pencapaian Anda. Anda merasa percaya diri dan tidak
ngoyo dalam melakukan usaha itu. Tidak stres atau depresi, tidak emosi,
semua dijalani dengan santai dan senang hati. Sedangkan dalam kata
perfection (kesempurnaan) tersirat suatu usaha ke arah pencapaian
kesempurnaan. Anda selalu gelisah dan stres karena takut gagal, dan
akhirnya depresi karena Anda merasa harus mencapai kesempurnaan dalam
kerja Anda. Anda tidak mau dinilai bersalah / gagal, Anda tak mau kalah
dengan orang lain. Anda terus mencari kesalahan dan kelemahan agar kerja
Anda sempurna, tak peduli bagaimana caranya.

Randy Frost sependapat dengan Miriam. la memberi contoh di lingkungan
akademisi. Ketika para mahasiswa harus menulis paper (tugas berupa
tulisan), ternyata mereka ya
ng takut berbuat kesalahan (para
perfeksionis) justru mendapat nilai buruk. Mengapa? Menurut Randy,
perfeksionis tidak mau dikritik. Mereka tidak ingin karya tulisnya
dievaluasi dan ditunjukkan kesalahan-kesalahannya. Justru karena banyak
pertimbangan disebabkan takut membuat kesalahan, paper mereka malah
jelek. Jeleknya lagi, menurut Miriam, para perfeksionis ini tidak mau
mengembangkan keterampilannya, sehingga kreativitas mereka terhambat,
tidak berkembang.

Bagaimana Sebaiknya

Agaknya tak seorang pun mengetahui lebih baik tentang perfeksionisme
daripada Randy 0. Frost. Selama lebih dari dua dekade, Randy melakukan
penelitian untuk mendefinisi dimensi perfeksionisme. Inilah antara lain
definisi perfeksionisme yang dia kumpulkan dari para kliennya selama
melakukan penelitian-penelitiannya.

● Jika seseorang melakukan tugas lebih baik dari pada saya, maka saya
akan merasa gagal total.

● Orang lain bisa menerima penilaian bagi dirinya sendiri dengan standar
lebih rendah daripada saya.

● Orangtua saya menghendaki saya menjadi yang terbaik.

● Sebagai seorang anak, saya dihukum jika mengerjakan sesuatu tidak
sempurna.

● Saya cenderung menyelesaikan pekerjaan paling lambat karena saya
mengeceknya berulang kali.

● Kerapihan pekerjaan merupakan hal yang paling penting bagi saya.

Semua pernyataan itu mencerminkan perfeksionisme. Masalah terbesar
menurut Randy adalah bahwa sukses tidak tergantung pada bagaimana
mencapai sukses dengan cara mencari-cari kesalahan lalu menanganinya,
tetapi bagaimana kreativitas dan semangat Anda dalam menangani masalah.
Di masa depan, Anda sebaiknya tidak membuat anak Anda menjadi
perfeksionis untuk mencapai kekuasaan (power) tetapi buatlah mereka
bersemangat dalam hal-hal yang diminatinya. Dengan demikian mereka tidak
menderita stres sepanjang hidupnya, tidak selalu ragu-ragu atau takut
berbuat kesalahan, tetapi bisa menikmati hidup, dan selalu bersemangat
menjalankan tugas-tugasnya. Demikian nasehat para ahli.

Sumber: Majalah Nirmala

Khansa mau ikutan


Khansa mau ikutan baca?
Jangan di makan, ya, nak …
Ini komiknya Tante Tita
Judulnya “Transition” ceritanya mengenai masa-masa penyesuaian tante Tita saat baru sampai di Belanda untuk kuliah.Khansa mau baca juga ya, kan ada buku kainnya,nak.

Khansa lagi senang eksplor ….dengan mulut terutama (semua di cobain)…akhirnya memang bukunya diamankan dan diganti mainan gigit-gigitannya.

Bukunya Tita bisa dipesan online disini bonus pin,lho …


Dalam perjalanan pagi ini

Perjalanan pagi kekantor bagi yang rumahnya di suburbs…selalu saja ada macam2 kejadian umumnya sih macet nggak ketulungan karena kecelakaan truk-truk segede gaban yang saling seruduk atau dengan murah hati menebar tepung terigu di 2/3 jalan tol. >: /

Yang lucu-lucu biasanya komentar2 atau gambar2 di truk antar kota. Nah, stiker ini pas nempel di mobil roti. Kebetulan berhenti lama di lampu merah sehingga sempat merogoh tas untuk mengambil kamera.

Bagus juga kata-katanya dan ternyata ada perkumpulannya.

Khansa sudah bisa ngapain?

Sudah bisa guling-guling ke samping kiri dan kanan
Sudah merayap … palagi kalau di kasur semangat banget nyungsepin mukanya
Sudah mulai hafal orang
Sudah mulai makan buah dan biskuit bayi
Nangisnya sudah pinter (nggak kayak bayi kecil lagi)
Sudah Narsis …

Dan tanggal 21 Juli nanti Insya Allah akan 7 bulan …