Stuck

I’m out of words …

stuck …

cat got my tongue

it’s just we are moving again…out of the comfort zone..

hopefully we’ll get in touch soon …

don’t know when …

Mohon maaf lahir batin ,ya …

terimakasih atas dukungannya…

Doanya tetap dinanti ..

Harapan dan kenyataan (Balada mencari Kontrakan di Inggris) part I

“Hey mister can you tell me
What this world’s about
It might just help me out
I used to be a dreamer
But my dreams have burned
You know how luck can turn”
(Richie Sambora – Stranger in this town)

Banyak hal yang tidak terduga terjadi selama di Inggris ini. Diantaranya adalah, ternyata mencari rumah untuk di kontrakan di Inggris ternyata lebih sulit dari yang diduga. Walau sudah dibrowse dari jauh-jauh hari di Internet sewaktu di Indonesia, pada saat di lapangan kenyataan berbicara lain. Banyak rumah yang ternyata sudah di”embat” orang. Kalaupun ada agak jauh dari harapan (di tengah daerah “Bronx”,bocor, dekil…dsb).

Petualangan mencari kontrakan dimulai hari Sabtu 13 September, sebelumnya Bang Arman (tuan rumah tempat kami menumpang) telah membantu menghubungi para agen perumahan untuk membuat janji melihat properti. Bang Arman beserta Istri dengan murah hati mengantar kami keliling, dari 4 properti kita hanya berhasil melihat 3 dan cuman satu yang agak lolos seleksi. Sabtu itu ternyata macet banget! Tumben-tumbenan untuk ukuran Inggris. Kami terjebak macet cukup lama di Dunstable Road, yang kiri-kanannya pasar tradisional. Selesai survey yang melelahkan kami sempet menemani pasangan baik hati itu untuk belanja di Pasar Dunstable.

Sedikit mengenai pasarnya, keadaannya cukup bersih. Para pedagang umumnya orang Pakistan/banglades/Arab/India dan banyak toko halal (artinya menjual daging sesuai syariat Islam). Karena pasar ini terletak di kantong daerah Muslim, maka banyak yang pake gamis,jubah, jenggotan atau pake cadar dan jilbab berbagai model. Ada juga yang pake “Sari” pakaian tradisional wanita India. Usai berbelanja kami pulang, tapi tidak dengan mulus, ternyata hari itu ada pertandingan bola, klub kota Luton sedang main dan para Hooligan bergerombol pulang dibawah pengawasan ketat Polisi, ditambah lagi ada rumah yang terbakar di dekat kami parkir. Harapan pulang lancar jadi agak deg-degan ….

Seninnya, kami memutuskan untuk pergi naik kereta saja ke Luton dari Bedford, selain untuk mencari kontrakan, Ita harus melapor kepada Jurusan untuk meminta surat keterangan memperoleh kontrakan. Sehari sebelumnya kita sudah merencanakan rute perjalanan melalui google maps. Karena taksi mahal (pastinya) maka kita mempersiapkan diri untuk berjalan kaki. Khansa sudah mulai merembet berdiri sudah ogah duduk manis di keretanya, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan maka Khansa saya gendong saja (hitung-hitung olahraga). Selain membawa Khansa, kami juga membawa ransel berisi bekal untuk dia dan satu ransel lagi berisi dokumen-dokumen serta laptop untuk jaga-jaga. Selain itu ramalan cuacanya bagus…diramalkan berawan/cerah dengan suhu sekitar 8 – 11 derajat celcius

Dari stasiun ke kampus Bedfordshire, Luton kurang lebih 1 mile . Karena gedung kampusnya ada beberapa maka sempat juga nyasar dan bertanya beberapa kali. Akhirnya ketemu di salah satu gedung dengan GEoff, Usai bertemu dengan Geoff yang mengurus mahasiswa luar negeri, kami diantar menemui kepala jurusan TEFL di gedung lain di lt 4.Masih sambil gendong Khansa tangan mulai pegel juga. Ita mendapatkan pengarahan agak lama dari Kepala Jurusannya.

Setelah selesai kami mulai bersiap-siap mencari kontrakan. Paginya Ita telah membuat janji dengan agen properti untuk melihat-lihat. Satu masalah, kami belum pegang peta Luton. Walau sebelumnya di google, tapi ternyata rumah yang available alamatnya pindah. Akhirnya kami berhenti dan bertanya di sebuah toko ala-alat lukis. Terrnyata mereka tidak menjual peta. Penjaga toko itu seorang wanita tua berambut putih, beliau dengan sigap membuka peta yang tulisannya kecil-kecil mencoba mencari jalan yang kami tuju. Tapi beliau tidak bisa menemukan nama jalan yang kami tanya. Seorang pelanggan yang kebetulan sedang membayar di kasir, menunjukan jalannya di peta …dan menawarkan tumpangan! Terkejut kami mengiyakan, ternyata bapak itu membawa mobil ford ranger, dan dulu beliau punya teman kuliah yang juga orang Indonesia. Kami tidak sempat ngobrol lebih banyak karena keburu sampai di daerah yang dituju, ternyata lumayan jauh dan menanjak pula jalannya ( di daerah perbukitan) waduh, kalau kesana jalan kaki alamat patah-patah. Pulangnya kami diberi tumpangan lagi oleh agen real estatenya menuju kampus Bedfordshire. Disana kami berjalan kaki lagi ke kantor agen property yang disarankan oleh orang kampus Bedford, sayangnya si agen sudah penuh di booking dan dia menyarankan untuk datang kembali besok (selasa).

uh…capeee deh…Khansa sudah mulai bosan digendong dan bapaknya sudah mulai pegal tapi misi belum selesai, sebelum melanjutkan mencari rumah lagi kita memutuskan untuk mencari peta Luton dulu, ternyata sekitar 200 m dari kantor properti ada mal bernama Arndale, berangkatlah kami kesana browsing mencari toko buku dan akhirnya menemukan peta sekaligus memberikan Khansa susu. Karena sudah jam 2an kami memutuskan untuk pulang dulu, setelah sebelumnya muter2 nyari tempat buat ganti popok Khansa. Dari Arndale kembali jalan kaki ke stasiun kereta. Di stasiun Luton tidak perlu terlalu lama menunggu keretanya sudah datang.

Dari stasiun Bedford kita harus jalan kaki sekitara 600m-an keterminal bus Bedford, apesnya bis baru saja kabur (jadwal jam 15.00) dan kami harus menunggu lagi sampai bis berikutnya datang jam 1625….Capek banget ….tangan udah mau copot rasanya ….
Sayup-sayup di loket karcis terdengar lagu ini:

With or without you
With or without you
I cant live
With or without you
(U2 With or without you)

Bis datang tepat jam 16.25, setengah jam kemudian kami sudah sampai di Harold di rumah keluaraga Arman. Malemnya langsung tepar…rumah belum dapat …mumet..stress

Memang Harapan nggak selalu selaras dengan kenyataan … manusia hanya bisa berdoa dan berusaha selebihnya Tuhan yang menentukan. Moga-moga besok lebih lancar …

“Sesungguhnya setel
ah kesulitan ada kemudahan …(Al-Qur’an)”

Berpuasa di negeri Ratu Elizabeth

Umumnya pertanyaan yang datang adalah bagaimana kita menjalankan ibadah puasa di negeri orang?

Pertama adalah bagaimana jadwalnya? Inggris saat ini memasuki musim gugur, artinya hari dan malam kurang lebih sama panjang dibanding misalnya musim panas dimana harinya lebih panjang dibanding malam.

Keluarga Arman adalah satu-satunya keluarga muslim di desa Harrold ini. Berkat internet mereka memastikan jadwal dari software azan online di komputer. Jadi nggak seperti Indonesia dimana ada yang ngebangunin sahur. Disini (Harrold) adem-adem aja. Sahurnya kurang lebih waktunya sama, berhubungan nggak ada yang ingetin waktu imsak jadi dimundurin 10 menit dari waktu Subuh saja.

Jadwal sholat tanggal 16 September sebagai berikut

Subuh: 4:43

Terbit matahari: 6.38

Zuhur: 12:57

Ashar: 16:21

Magrib: 19:14

Isya: 21.03

Ramalan cuaca tanggal 16 September 08

Suhu 8 – 11 derajat celcius, Berawan

Kita mulai puasa pada hari ketiga setelah mendarat di Inggris, setelah sebelumnya “berantem” dengan jet lag. Nah, udara Inggris pada dasarnya mendung-mendung seperti Jakarta jam 6 atau 7an, jadi puasanya mungkin tidak terlalu haus karena tidak berkeringat.

Tetapi jika harus keliling kota Luton sambil jalan kaki mencari-cari tempat tinggal mau nggak mau terasa juga lemesnya. Apalagi nggak semua puasa jadi yang makan, ya, makan , yang puasa tinggal puasa. Sewaktu di Luton (daerah kota) yang lumayan padat penduduknya dari berbagai etnis (india, pakistan bangladesh, china…wah rame deh) suasana puasanya kurang lebih sama saja artinya tidak terasa. Hehehehe…Mana bau kebab, Mc D, French Fries…Fried Chicken…dengan ganasnya menyerbu hidung. yuuumm yuummm. Dengan udara dingin begini haus memang tidak terasa tau-tau bibir sudah kering dan pecah-pecah. Mau bayangin dinginnya? Kurang lebih seperti puncak pas di tengah malem tapi anginnya2 x kali lebih dingin dan terus menerus. Selain makanan, pandangan juga jadi godaan heheh..biar dingin gitu yang mau “”u can see teuteup jalaan…(padahal gue sendiri lapis 2 bajunya – takut masuk angin).

Waktu buka lagi-lagi numpang di Laptop yang otomatis menyuarakan Azan. Belum tahu juga nanti kalau sudah tinggal di akomodasi sendiri gimana, tapi paling nggak begitulah kurang lebih suasan puasa di negeri Ratu Elizabeth.

Nah, itu azan maghribnya berkumandang.dari laptop gue dan tuan rumah, buka puasa dulu,ah …Menunya? Alhamdulillah tuan rumahnya gemar memasak, ada korma dan teh manis sebagai pembuka…makan utamanya Nasi, terus bakso …nyam nyam …

bon appetite …

Roel dari Harrold, Bedfordshire, United Kingdom

(pas ngetik ini di indonesia jam 1 malam tanggal 17…hehehe met tidur ya temen-temen)

Jum’atan dan Belanja

Ternyata sudah hari jum’at! Teteh Ina mengajak kami keluar sekalian biar saya pergi shalat Jum’at bareng suaminya Abang Haris. Masjidnya berada di Bedford sekitar 30 menitan dari Harrold. Jadilah Khansa dan Ita sekalian ikut jalan-jalan keluar.

Masjidnya ternyata adalah masjid Bangladesh, ketika kami datang sudah ada ceramah dalam bahasa Bangladesh. Tempat wudhunya bersih, rapi dan …ada tempat duduknya! semacam dingklik begitu tapi permanen, jadi wudhunya sambil duduk. Ketika kami masuk ada seseorang yang membubuhkan sedikit minyak wangi di tangan. Tapi jangan bayangkan gedung Masjid model di Jakarta yang memakai menara dan Kubah. Masjid ini modifikasi dari rumah lalu digelar karpet model di masjid-masjid Indonesia. Mimbarnya sendiri model terbuka, bukan yang model kubikel seperti rata-rata masjid di Indonesia. Penceramahnya memakai sorban model India/Bangladesh berwarna putih. Selain orang Bangladesh ada juga orang Inggris, Arab dan Afrika yang sholat. Wah, yang Arab ganteng-ganteng lah pake peci dan gamis hitam gaul (yang ada bordirannya). Banyak juga orang tua yang duduk di kursi dengan rambut dan jenggot putih. Ada juga satu orang Inggris asli tampaknya habis pake anting-anting begitu. heheheh

Ternyata ceramah dalam bahasa Bangladesh hanya pengantar, ceramah yang menjadi inti Jum’atannya dibawakan dalam bahasa Arab. Doa yang lain sama saja, persis seperti di Indonesia. Nah, kotak jum’atannya diwakili beberapa orang yang membawa kantong yang keliling sebelum sholat dimulai. Yang asik kita bisa minta kembalian ternyata ..heheheh…

Sholat Jum’atnya sendiri mirip dengan masjid-masjid NU di dekat rumah di Tebet. Azan 2 kali yang diselingi sholat sunnah. Ceramah dalam bahasa Arabnya sendiri singkat dan dimulai sekitar jam 13.19 waktu England.(Zhuhur jam 12.58).

Keluar dari masjid kami di sambut gerimis ,(atau hujan gerimis yang lebat?) Ibu-ibu yang mendrop kami di masjid telah menjemput saya dan pak Haris. Pak Haris kemudian di drop kembali ke kantornya.

Teteh Ina menawarkan untuk mampir di Supermarket dan kami setuju. Akhirnya kami pergi ke Supermarket bernama Tesco..semacam Carrefour disini. Jangan ngomongin konversi harga dari Poundsterling ke rupiah deh…sakit hati…heheh pada mahal semua …Kami membeli kartu telepon dengan nomer Inggris, Pisang dan makanan bayi buat Khansa serta sebotol susu. Harganya? sekitara 8 poundsterling lebih…hitung sendiri,dah …

Pulangnya kami menjemput putri Tante Ina, Icha…untuk kemudian segera pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang hujan mengguyur Bedford, akibatnya beberap tempat macet. Persis Jakarta tapi minus motor-motor ugal-ugalan …

Rain drops keep falling on my head…

keterangan gambar
1. Papan nama Masjid Bedford
2. Petunjuk di dalam masjid, bilingual bo..(bangladesh dan Inggris)
3. Teteh Ina, Khansa dan Ita mejeng depan Tesco

Bio Clock and Jet Lag

Sekarang baru ngalamin yang namanya Jet Lag. Agak susah menjelaskannya tapi prinsipnya begini:

Di Indonesia pola hidup badan adalah:
Jam 6 pagi berangkat kantor, jam 12 adalah waktu sholat zhuhur dan istirahat di kantor, jam 14 adalah waku ngantuk saat dikantor, jam 18 saatnya pulang ke ruman menembus macet untuk kemudian sampai rumah jam 20.00 dan segera terlelap jam 21 karena kecapean. Pola ini seolah-olah sudah fixed karena tanpa melihat jam pun, badan sudah terkondisi.

Nah, bayangkan ini, Zona waktunya mundur 6 jam. Dengan ritme hidup badan yang masih dengan pola hidup Indonesia timingnya jadi ngaco berat. Jam 12 malem waktu UK,sama dengan jam 6 pagi di Indonesia. Jam 12 malam kita bangun segar bugar karena badan sudah terbiasa dengan kondisi siap tempur di Indonesia. Padahal di luar gelap gulita. Dan jam 15.00 sore kita udah ngantuk berat soalnya di Indonesia sudah jam 20an … waktunya tidur.

Satu cerita mengenai penerbangannya, kita berangkat dari Singapore jam 22.55 waktu singapore. Artinya di Indonesia jam 21 an …Lamanya penerbangan sekitar 12 jam-an, tapi kita melawan arah bergeraknya bumi, harusnya semakin terang ( karena toh kita berangkat udah tengah malem) tapi selama perjalanan gelap gulita dan sampai di Inggris Subuh…

Orang Dewasa jadi lemes dan badannya nggak enak…apalagi bayi.Khansa jadi lumayan rewel setelah mendarat dan lumayan sensitif. Badannya capek mau tidur, tapi diluar waktunya masih terang atau badannya mengira waktu makan standar waktu Indonesia ternyata di Inggris belum…major conflict of interest

Mungkin perlu waktu beberapa hari lagi agar dapat menyesuaikan ritme badan dengan waktu lokal. Salah satunya cara adalah dengan bangun lebih lama di waktu sore.(gagal,sih untuk hari ini). Katanya 2 atau 3 hari lagi baru normal.

Mengetik blog ini mungkin jadi terapi karena saat ini jam 20.53 waktu London…dan di Indonesia sekitar jam 2 pagian, orang lagi lelap atau mungkin sholat malam menjelang sahur.tapi di UK masih cukup sore untuk tidur.

Jet Lag…what a new experience …

image dari http://www.businessweek.com

Arrival

Alhamdulillah akhirnya kita menjejakkan kaki di Heathrow Airport, pesawat landing jam 05.15 pagi. London masih gelap. jam 6 lebih kita baru selesai urusan dengan Imigrasi. Tadinya sempat bingung karena konfirmasi penjemputan masih simpang siur. Namun, penjemputnya sudah ada, dan ternyata muslim asal Pakistan yang sudah 9 tahun di Inggris.Kita langsung cabut masuk tol ke arah Bedfordshire. Ternyata tidak beda jauh dengan tol Jakarta Tangerang yang macet melulu …hehehe…setelah sempat nyasar-nyasar kita nyampai di tempat kediaman bp. Arman Haris (banyak sekali Haris dalam hidup gue ya?) di Harold, sekitar 1 jam dari Luton. Liat gedung-gedung di kampung Inggris ternyata asik sekali, klasik abis! kota kecil ini tenang sekali tipikal dusun di Inggris. Pak Haris dengan murah hati mempersilakan kita memakai internet…hehehehe..jadinya bisa ngasi laporan sesaat dari Bedfordshire…sebenarnya banyak yang mau diceritakgan tapi masih ‘jetlag’ ..hahahhaa…. Yang penting kita nggak kuran suatu apapun, tinggal penyesuaian aja. Oh, iya..saat tiba suhu di inggris sekitar 14 derajat saja, kadang berawan, lalu gerimis, kemudian berhenti dengan munculnya matahari sesaat…kemudian mendung lagi. Roel from Bedfordshire …over and out

transit

iseng nyoba internet gratis di Changi sebelum naik penerbangan langsung ke heathrow dengan british airways,…Khansa agak cranky…ibunya capek …bapak merasa kampungan …

The Final Countdown

Packing masih 90%, tapi penerbangan sudah di booking. Take Off jam 17.00 dari Soekarno Hatta menuju Changi Airport untuk kemudian langsung menuju Heathrow. Diperkirakan kami akan sampai jam 05.15 waktu Heathrow. Untuk sementara gue gak akan online…sampai dapet koneksi internet yang tetap di Inggris. Terimakasih atas dukungan teman-teman sejauh ini…mohon doa dan dukungannya untuk keselamatan perjalanan kami …

Roel
Ita
Khansa