Pengajian di Bedfordshire University

Dari pengajian di Bedforshire University yang diadakan oleh Bedfordshire Islamic Society dengan judul “The World of the Unseen” intinya nge bahas dunia Jin dan Malaikat.

  1. Malaikat Jibril punya 600 sayap
  2. Di Surga ada telaga yang bernama Al Kautsar, Jika malaikat Jibril berendam disana kemudian mengibaskan sayapnya maka tiap tetes yang jatuh dari sayap Malaikat JIbril menjadi malaikat.
  3. Malaikat Mikail juga mempunyai 600 sayap dan malaikat Jibril sebesar 1 sayap malaikat Mikail.
  4. Saat hujan turun setiap tetes air yang jatuh adalah malaikat.
  5. Malaikat terbuat dari cahaya murni, dan mereka tidak terikat waktu dan tempat. Itu menjelaskan kenapa malaikat Rakib dan Atid bisa ada dimana-mana pada waktu yang bersamaan.
  6. Malaikat maut bernama Azrail (mungkin beda lafal ya). Ada cerita lucu mengenai malaikat maut dan nabi Sulaiman, ternyata sudah dibuat komiknya oleh Haris. Disini
  7. Malaikat adalah makhluk yang patuh kepada Allah.
  8. Jin terbuat dari Api yang tidak ada asapnya
  9. Setiap manusia mempunyai kembarannya dari bangsa Jin dan mereka melihat kehidupan kita dari awal hingga mati. Nabi Muhammad juga berhasil membuat kembaran Jinnya masuk Islam.
  10. Imam Abu Hanifah diberikan kemampuan unik. Ia dapat melihat dosa orang berguguran saat berwudhu, saat orang membasuh anggota tubuh mereka dan tetes airnya jatuh. Imam Abu Hanifah memohon kepada Allah agar kemampuannya ini di hilangkan agar dia dapat lebih tenang berinteraksi dengan orang-orang.
  11. Jin dilahirkan dalam keadaan dewasa terutama pengetahuan dan pikirannya, mereka tidak mengalami tahap-tahap perkembangan seperti manusia, walaupun mereka tetap berkembang biak dsbnya. Peradaban Jin juga lebih maju, ada jin Muslim dan Jin Kafir.
  12. Kurafat, adalah nama orang yang diculik oleh bangsa Jin dan dibawa kedunia Jin. Di dunia itu ia melihat betapa berbeda dan majunya bangsa Jin. Ia kemudian dikembalikan ke dunia manusia dan menceritakan yang dilihatnya di dunia Jin. Orang-orang menganggapnya mengkhayal jadilah namanya

Tantangan terbesarnya adalah ceramahnya dalam bahasa Inggris,jadii yaaa kudu konsen banget. Sang Ustadz, Ibrahim seperti sahabat nabi BIlal, alias orang hitam, suaranya lantang dan mantap. Beliau berasal dari Liverpool dan belajar di beberapa Negara Timur Tengah. Pendahuluan ceramahnya ia menekankan pentingnya kita beriman pada apa-apa yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya. Dan itulah yang paling penting, ada banyak hal yang baru bisa dijelaskan ilmu pengetahuan modern tapi telah diucapkan oleh Rasulullah berabad-abad yang lalu. Dalam ceramahnya ia banyak menyindir “manusia modern” yang katanya tahu banyak tapi ternyata pengetahuannya masih sedikit.

Yah, kurang lebih itu ingatnya…heheh maklum sudah 2 minggu yang lalu..moga-moga ada yang bermanfaat.

How To Liberate the Hero In You

By Dr. Annette Colby, RD

One of the great things about the movies is that the hero always manages to lift up from life’s troubles. While the rest of us mere mortals would curl up in a dark corner, the hero commits fully to the journey ahead and finds a way to restore the world’s balance.

If we look closely at the making of a hero, we notice that initially the hero is reluctant to take on the challenge because of personal fears or insecurities. For a short time, the hero faces doubt and perhaps even a momentary meltdown. The hero may panic or break down in a fit of despair or passing hopelessness.

But that’s just in the short-term. Overall, the hero doesn’t check out for the rest of the movie until the bad things go away. The hero doesn’t give up and run to the nearest fast food restaurant to escape from life in a double cheeseburger and fries. And the hero doesn’t permanently give up and drown in a bottle of whiskey.

Our hero eventually takes a deep breath, accepts the situation, and steps up to the challenge. A transformation occurs as the character faces a situation that demands some kind of change. Our hero is able to let go of a particular mindset, and propel into action to overcome adversity.

That’s why we love movies. We identify with the vulnerability of the character as he initially shy’s away from an overwhelming challenge. Then our hearts surge with excitement as we watch the character dig deep within to discover loyalty and commitment to the cause. We feel positive emotional energy as we watch the hero face the challenge with integrity, determination, and persistence. Movie heroes show us that it is possible to be vulnerable yet courageous. It is possible to face our problems while maintaining faith and commitment throughout the journey.

Life Is An Action Movie
Luckily, most of us will not ever face the extreme situations portrayed in movies. Life is generally much more ordinary and routine. However, we all experience challenges, misfortune, and hardship that demand we grow beyond our current abilities. These changes require that we step beyond our comfort circles and explore new avenues of self-expression.

Are you the confident hero of your own life, leading yourself compassionately and decisively – not only when things are smooth, but especially when the going gets tough?

Look closely at your self-leadership personality as you face the challenges and goals most important to you. How do you solve problems? How do you respond to pressure? How do you interact with yourself when facing difficulty? What motivates you to stay focused to achieve your goal to great success?

To become a confident heroic leader of your own life, follow this empowering checklist:

1) Identify and accept your fear or challenge. Dedicate yourself to achieving a successful outcome, no matter what monsters you may face along the way.

2) Identify the mindset or qualities you wish you had – courage, persistence, optimism, faith, belief in yourself, resourcefulness, inspiration, etc.

3) See the challenge as a situation providing many, many opportunities to develop more of the qualities you wish to posses.

4) Appoint yourself in charge of making decisions related to your goal, cause, or overall desired outcome.

5) Use your imagination to identify the single next step you can take to face your fear or challenge.

6) Take action to move you forward into a positive outcome – but do so in a manner that allows your courage, love of self, or faith to expand.

There’s a hero that is always with you, when you are in joy, in pain, or in fear. That hero is your spirit of hope, imagination, and persistence – and that hero lies within you. Follow the tips above and release your hidden inner hero!

Author’s Bio

Dr. Annette Colby has one job: to teach people how to like who they are, and to become all they are capable of becoming. Skyrocket Your Happiness and Success! Learn how with a FREE subscription to Loving Miracles weekly newsletter. Sign-up now at www.AnnetteColby.com

Taken from: http://mded.multiply.com/

MENYESAL TIDAK MENANGIS

Mengapa menjadi menyesal, jika seorang tidak bisa menangis…?
Pak Sumo adalah seorang karyawan dalam sebuah perusahaan yang berusia sekitar 35 tahun. Dia termasuk seorang pekerja yang disiplin. Di samping kedisiplinanannya yang sudah diakui oleh manajernya, ia termasuk orang yang keras hati. Apa yang dikehendakinya, selalu ia usahakan untuk bisa meraihnya.
Ada satu hal yang menurutnya, merupakan kekuatan dari dirinya. Yaitu bahwa ia tidak pernah menangis. Melihat kejadian apa pun, ia mampu melihat dengan biasa-biasa saja. Tanpa tergoda dalam suasana sedih. Jika ada orang menangis karena terhanyut oleh sebuah cerita dalam sebuah sinetron atau drama, ia hanya ketawa saja. Kekuatan hatinya tersebut menjadi kebanggaannya.
Hari itu pak Sumo adalah sebagai salah satu jama’ah haji di kloterku. Ia berangkat dari maktab menuju masjid Nabawi kadang bersamaku kadang pula tidak. Hari itu di dalam masjid kebetulan dia bertemu denganku. Maka kami ramai dan asyik bercerita saling tukar informasi selama di kota Madinah.
Sambil menunggu datangnya waktu shalat ashar, kami berbincang-bincang seputar masalah ibadah. Serta saling bertanya bagaimana suasana hati kami ketika berada di tanah Haram ini. Pak Sumo tiba-tiba bertanya kepadaku, apakah aku pernah meneteskan air mata ketika melakukan shalat di masjid Nabawi ini? Aku menjawab sambil lalu saja:
“…wah, ya tentu saja pernah. Bahkan saya termasuk orang yang sering kali menangis jika melakukan shalat di sini.” Jawabku.
Pak Sumo menimpali lagi :
Sering kali?… Mengapa bisa begitu ?” tukasnya. “Saya juga tidak tahu pak” jawabku singkat. Begitu aku selesai menjawab petanyaannya itu, tiba-tiba di depan kami agak menyerong sebelah kanan, terlihat ada seorang lelaki setengah baya yang berdoa sambil mengangkat kedua tangannya.
Begitu sejuknya ekspresi wajahnya. Matanya terpejam. Dagunya terangkat sedikit. Dari sela-sela lembar bulu matanya menetes air matanya. Tetesan itu membasahi pipinya yang agak sedikit cekung. Tangannya merapat di depan dadanya dan menengadah ke atas. Mulutnya nampak bergerak-gerak, tanda ia sedang berbisik pelahan.
Tanpa terasa aku ikut hanyut menyaksikan ekspresi orang tersebut. Sehingga aku agak lama terdiam. Aku lupa kalau di samping kananku ada pak Sumo yang sedang mengajakku untuk berbincang-bincang. ..
Tiba-tiba lenganku dipegang oleh pak Sumo. Seraya ia bertanya kepadaku.
:”Mengapa anda nampaknya ikut terhanyut melihat orang itu? apa yang istimewa pada diri orang itu?”
Sebelum aku menjawab, pak Sumo pun melanjutkan pertanyaannya lagi:
“… mengapa ya, sejak kemarin koq banyak orang menangis di sini? Apa yang menyebabkannya? ” Saya sendiri tidak pernah mengalami hal semacam itu. Mengapa itu bisa terjadi.? ” Katanya lagi.
Aku tidak memberi jawaban apa pun kepada pak Sumo atas pertanyaan-pertanya an itu. Pembicaraan kami terputus, karena terdengar bilal sudah memberi tanda bahwa shalat akan segera dimulai. Akhirnya kami berpisah mencari shaf masing-masing untuk mengikuti shalat berjama’ah.
Satu hari, dua hari, kami tidak bertemu dengan pak Sumo. Tetapi pada hari terakhir di Madinah, ketika kami melakukan shalat terakhir di masjid Nabawi, aku bertemu lagi dengan pak Sumo. Seperti biasanya ia mengajak duduk bersama sambil nunggu shalat berjama’ah. Menurut pengakuannya, ternyata selama kami tidak bertemu, pak Sumo bertambah sering melihat orang-orang menangis di masjid itu.
Bahkan katanya ada orang yang hampir pingsan menangis sesenggukan menyesali dosa-dosanya. :”…tetapi hati saya tetap hambar. Saya tidak menemukan alasan untuk menangis. Meski pun dalam hati kecil saya, saya juga ingin merasakannya. Tetapi setes pun saya tidak bisa mengeluarkannya. ” Katanya lagi.
Ketika batasan waktu untuk di Madinah sudah dinyatakan habis, dan kami semua harus berkemas untuk menuju kota Mekah, aku melihat sesekali waktu pada diri pak Sumo. Ku lihat ia sering berdiam. Tidak seperti biasanya. Biasanya ia selalu nampak ceria, lincah, penuh gaya , dan penuh semangat.
Saat itu nampak serius sekali. Maka aku pun mendekatinya sebagai teman jama’ah se kioter yang berangkat dan pulang kami sering bersama-sama. “Ada apa gerangan pak Sumo?” tanyaku.
Setelah sejenak mamandang ke
padaku, dan sedikit menatap mataku, pak Sumo bercerita. Ternyata selepas kami beberapa hari tidak bertemu di dalam masjid, pak Sumo bertambah sering melihat orang menangis dalam berdo’a. Bahkan ketika pulang dari masjid, ia masih sempat menyaksikan seorang ibu yang matanya masih basah oleh air mata.
Dan yang lebih menggugah perasaannya adalah, ketika suatu saat pak Sumo berdekatan dengan beberapa jamaah, yang sedang berdiskusi tentang masalah suasana hati. Dari hasil pendengarannya yang tidak sengaja itu, pak Sumo mengambil sebuah kesimpulan, bahwa seharusnya hati seorang mukmin itu adalah sensitif. Gampang trenyuh, gampang peduli, dan gampang melihat kesalahan diri sendiri… Maka sejak itu pak Sumo sering merenung sendiri. Ia mulai melihat ada beberapa keanehan dalam dirinya. Ia mulai merasa betapa salahnya ia. Betapa keras hatinya, betapa tak tahu dirinya ia…
Penyesalan demi penyesalan ia renungi sendiri.
Dan tidak ada yang menyuruhnya, tiba-tiba saja jatuhlah air mata pertama pak Sumo selama dalam hidupnya. Air mata yang sangat mahal harganya. Yang akan mengubah suasana hati pak Sumo dalam kehidupannya.
Dia bertambah sedih, dan merasa sangat besar dosanya, ketika teringat pernah mengejek temannya yang menangis ketika di Raudhah. Bahkan ketika ia melihat orang-orang melelehkan air mata, saat itu ia pernah mengejeknya di dalam hati. Akh, kepingin sekali rasanya pak Sumo mencari orang-orang itu, dan ia ingin memeluk untuk mohon maaf, atas kedangkalan pikiran dan hatinya.
Hari itu Pak Sumo terus menerungi kesalahannya. Ku lihat sampai ia naik ke dalam bus, dan duduk di bagian belakang, ia tetap menundukkan kepala. Akh, rupanya pak Sumo telah ‘mampu’ menangis! Pak Sumo yang merasa bangga dengan kekerasan hatinya itu, pak Sumo yang selama hidupnya pantang mengeluarkan air mata itu, sekarang terlihat menangis, justru setelah semua orang telah berhenti dari menangisnya. ..
Bus kami pun melaju dengan cepat menuju ke kota Mekah Al-Mukaromah. Di dalam bus yang lain, aku duduk bersama teman serombonganku, dan tanpa terasa aku pun terus merenung dan berfikir tentang peristiwa yang terjadi pada diri pak Sumo. Memang masalah hati adalah masalah hidayah. Yang sangat sulit diterobos oleh kata-kata atau kalimat yang tajam sekali pun.
Firman Allah Swt, dalam Al-Qur’an menunjukkan betapa manusia mempunyai bermacam hati. Ada hati yang berpenyakit, ada hati yang tertutup. Ada hati yang keras membatu, ada pula hati terkunci mati. Bahkan ada hati yang sesat. Bergantung bagaimana mereka mampu melatih dan memenejnya masing-masing.
QS. Al-Baqarah (2) : 7
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
QS. Al-Baqarah (2) : 10
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
QS. Ali Imran (3) : 8
(Mereka berdo’a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”
QS. Al-Maidah (5) : 13
(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
QS. Al-An’am (6) : 25
Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan) mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jika pun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: “Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”.

dari kusnanto@………com

Udah lama gak ikutan Quiz …


Silver Pegasus person tend to be honest and your mind runs on a single truck.
Therefore, you tend to be little bit obstinate and hard minded.
You try to make your own way no matter what.
Nevertheless you can be kind and be sympathetic towards people, and tends to take care of them.
Your personality is that you tend to act rashly and can not stay still.
You are a responsible person and once you take up something, you will follow through to the end.
Your persevering character is recognized as a person who can be relied on, and many people have trust in you.
You do not possess good bargaining tactics.
However this weakness is one of your attractive sides.
Although you lack the fanciness to stand on the center stage, you can put hard effort.
Because you tend to follow your ideals, you may get in a lost when your conviction and beliefs are weak.
Sometimes you may feel failure even after putting in great effort.
You are full of adaptability, adjustability and taking action.
You will be successful by using these merits well.
You are a strong person and can overcome adverse circumstance without feeling gloomy.
You tend to be an idealist, and you can carry on expressing your self on something you feel strong about.
If you can get on a job that you wouldn’t get bored, you will express great talent.

Dari: http://world.doubutsu-uranai.com/
info dari [validangel]