Resolusi Tahun Baru : Nushrah

Oleh: R. Fathoni

Bismillahirrahmanir rahim

“Maka, tunggu apa lagi, segeralah kita susun resolusi tahun baru kita masing masing: resolusi nushrah; sebuah resolusi yang tanpa kehadirannya, mustahil resolusi hijrah bisa terlaksana.”

Sebenarnya tidak ada perintah di dalam agama Islam untuk memperingati atau merayakan pergantian tahun; entah itu tahun syamsiyah atau tahun komariyah. Yang ada adalah perintah untuk bermuhasabah, sejenak meluangkan waktu untuk melihat, mengevaluasi apa yang telah kita lakukan sebagai bekal menempuh kehidupan di masa – masa yang akan datang.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok , dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (AlHasyr (59); 18)

Ada baiknya di momen pergantian tahun seperti hari hari ini sejenak kita melihat dengan jernih apa saja yang telah kita lakukan sepanjang tahun 2008 M/ 1429 H ini. Hasil dari evaluasi akhir tahun ini adalah sebuah resolusi awal tahun: sebuah komitmen untuk menjalankan sebuah perilaku atau gaya hidup baru yang lebih baik. Ukuran baik dan tidak baik tentu saja sangat subyektif, sehingga ayat tersebut di atas diikuti dengan kriteria kebaikan dari sudut pandang hakikat kehidupan manusia di muka bumi sebagai seorang hamba Allah:

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (AlHasyr (59); 19)

Segala rencana perbaikan diri yang akan kita canangkan sesungguhnya tidak ada artinya sama sekali untuk diri kita jika kita tidak menempatkannya dalam konteks ketundukan kita kepada sang Khalik. Keinginan baik untuk menjadi lebih baik dalam kehidupan bisa berakibat buruk jika kita hanya berkutat terhadap diri kita dan melupakan Allah yang telah menciptakan kita.

Pergantian tahun baru komariyah biasanya juga dikaitkan dengan peristiwa hijrah. Tahun di mana Rasulullah SAW dan para sahabat beliau berhijrah dari Mekkah ke Madinah ditetapkan oleh Umar bin Khatthab sebagai tahun pertama dalam kalender resmi kekhalifahan Islam.

Hijrah sendiri berarti berpindah; yang dalam konteks sekarang adalah berpindah ke kehidupan yang lebih baik. Lebih baik dalam arti meninggalkan kebiasaan buruk, atau menambah kebiasaan baik dari kebaikan yang selama ini kita jalankan. Demikianlah nasehat untuk mengikuti semangat hijrah ini disampaikan oleh para ulama sebagai tambahan nasehat muhasabah dan resolusi tersebut di atas.

Hanya saja jarang para khatib yang menjelaskan bahwa proses hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat beliau dari Mekah itu tidak bisa dipisahkan dari kesediaan muslimin Anshor Madinah menampung dan menolong muhajirin Mekkah. Tidak ada hijrah tanpa nushrah. Maka Allah swt mengabadikan dan memuji kabaikan kaum Muhajirin dan Anshar ini:

Dalam bermuhasabah dan membuat resolusi kadang kita terlalu focus kepada “hijrah” yang akan kita lakukan; seolah lupa bahwa sebuah proses hijrah memerlukan proses nushrah; bahwa harus ada orang – orang yang menjadi anshar agar muhajirin bisa menempuh hidup baru yang lebih baik. Kita seolah lupa bahwa disamping menjadi muhajirin, kita bisa berperan sebagai Anshar; yaitu orang orang yang membantu orang lain yang ingin meninggalkan kehidupan mereka yang sekarang menuju kehidupan yang lebih baik.

Itulah barangkali mengapa banyak resolusi dicanangkan tetapi hanya sedikit yang bisa direalisasikan. Semua orang sibuk menyusun resolusi hijrah tapi hampir tidak ada yang menyusun resolusi nushrah. Maka marilah kita budayakan resolusi nushrah; yaitu memberikan bantuan kepada saudara saudara kita agar bisa berhijrah dari kehidupan kelam menuju kehidupan penuh cahaya.

Bagaimana menjadi Anshar?

Secara teknis, nushrah bermula dari “care”; perhatian, kepedulian, simpati dan empati terhadap orang lain. Dimulai dari orang orang terdekat kita: keluarga, tetangga, rekan sejawat hingga orang orang yang “jauh”: orang yang kadang luput dari perhatian orang banyak: kaum marjinal, atau yang termarjinalkan, orang lemah secara social dan ekonomis, yang karena kondisi itu mereka tidak bisa maksimal dalam menjalani hidup .

Dari kepedulian di atas kemudian kita wujudkan dalam aksi nyata: “share “; berbagi materi dan kesejahteraan. Ada sama di makan, tak ada sama dirasakan. Demikian kalimat bijak dari orang tua kita. Sharing materi dan kesejahteraan inilah inti dari amalan nushrah. Orang orang yang lemah secara social dan ekonomis tidak butuh retorika. Mereka tidak butuh janji. Mereka tidak butuh belas kasihan. Mereka butuh makan, dan pada saat yang bersamaan mereka butuh penghormatan.

Bagaimana care dan share itu bisa diwujudkan ? Perhatikanlah karakter kaum Anshar yang diabadikan oleh Allah berikut ini:

“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman [kaum Ansar] sebelum [kedatangan] mereka [Muhajirin], mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka [orang Muhajirin]; dan mereka mengutamakan [orang-orang Muhajirin], atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan [apa yang mereka berikan itu]. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. “ (AlHasyr (59) : 9)

Ada beberapa keyword pada ayat diatas: hidup mapan, beriman, mencintai muhajirin, ikhlas berbagi kesejahteraan, dan tidak kikir. Lima hal tersebut membuat kaum anshar memiliki sifat tertinggi dalam kehidupan sosial: “ii-tsar”; yaitu mengutamakan kesejahteraan orang lain di atas diri mereka sendiri.

Maka, tunggu apa lagi, segeralah kita susun resolusi tahun baru kita masing masing: resolusi nushrah; sebuah resolusi yang tanpa kehadirannya, mustahil resolusi hijrah bisa terlaksana.

Wallahu a’lam bis-shawab,

Kitchener,

26 Desember 2008

28 Dzulhijjah 1429

Advertisements

Khansa

Al-Khansaa. Tumadir Binti Amir al Sharid, Khansa kerap diartikan sebagai rusa/(gazelle) atau juga berarti “si pendek berhidung mancung”. Al Khansa berasal dari suku Sulaim dan klan Sharid.

Khansa r.a dianggap sebagai pujangga wanita Islam terkemuka yang memeluk Islam di Madinah bersama beberapa orang suku. Ibnu Athir menulis:

“semua pakar literatur sepakat menyatakan Khansa sebagai pujangga wanita terbaik di Arab. Tidak seorang pun wanita dalam sejarah telah menulis puisi seperti Khansa.”

Di masa pmerintahan Umar bin Khattam pada tahun 16 Hijriah, dalam perang “Qadisiah” dimana kaum muslim berhadapan dengan Persia. Khansa dengan empat anak-anaknya ikut di dalamnya. Di dalam peperangan itu ia kehilangan empat anaknya.

“Wahai anak-anakku! Kalian memeluk Islam dan hijrah atas kemauan kalian sendiri. Demi Allah, yang tidak ada Tuhan selain-Nya, kalian adalah putera-putera dari ayah yang sama sepertinya halnya putera dari ibu yang sama. Aku tidak pernah mengkhianati ayahmu atau pun menghina paman kalian. Aku tidak pernah mengijinkan setitik pun noda mengotori silsilah kalian. Kalian tahu balasan Allah yang telah dijanjikan-Nya untuk mereka yang berperang melawan orang-orang kafir di jalan-Nya. Kalian harus ingat bahwa kehidupan yang kekal di akhirat lebih baik dibanding kehidupan peralihan di dunia ini. Allah telah mengatakan ini di Kitab Suci Al-Qur’an”

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga [di perbatasan negerimu] dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. (QS:II:200) pada saat kalian bangun besok pagi bersiaplah untuk mempersembahkan yang terbaik dalam peperangan. Majulah ke garis pertahanan musuh mencari pertolongan Allah. Pada saat kalian melihat kobar api peperangan membumbung tinggi majulah ketengahnya dan hadapi pemimpin musuh. Insya Allah kalian akan menetap di surga dengan kehormatan dan keberhasilan”

Keesokan harinya saat peperangan berada pada puncaknya keempat puteranya menerobos garis pertahanan musuh. Satu persatu menyerang musuh sambil mengulangi perkataan ibu mereka dari Al-Qur’an dan berperang sampai semuanya tewas. Saat ibu mereka mendapatkan kabar kematian putera-puteranya ia berkata:

“Alhamdulullah! Kemenangan bagi Allah yang akan mempertemukan aku denga mereka dibawah naungan kasih mereka.”

Inilah seorang ibu pada zamannya. Ia mendorong anak-anaknya untuk meloncat dalam api peperangan dan saat mereka tewas berturut-turut ia mengagungkan Allah dan berterimakasih kepada-Nya. Khansa menikahi peperangan dan pertarungan dengan musuh! Ia tidak meratapi kematian suaminya saat ia tewas tetapi malah terjun ke medan peperangan dan membunuh tujuh prajurit musih seorang diri. Apakah ini bukan suatu contoh Iman para wanita pada saat itu?

Koleksi puisi Al-Khansa berjudul Diwan dan dipublikasikan dalam bahasa Inggris oleh Arthur Wormhoudt pada tahun 1973. Konon kabarnya puisi-puisi elegi Khansa juga di apresiasi oleh Nabi Muhammad yang mendengar Al-Khansa mendeklarisikan puisi-puisinya. Puisi atau eleginya terutama mengenai dua saudaranya yang tewas dalam peperangan suku sebelum Islam. Puisinya kerap menjadi rujukan sastrawan terkemuka seperti Khalil Gibran dan Nasib. Para pemikir Islam modern memelihara kumpulan puisinya untuk mempelajari bahasa Arab abad ke 7.

From Various sources

==============================

Dedicated to our daughter who is having her first birthday on December 21, 2008

Selamat Milad pertama Putri kami…Khansa Azka Rania, semoga berkah hidupmu ..

HAJI MABRUR ATAU HAJI “MABUR” ?

Allah berfirman dalam al-Quran, yang artinya, “Dan berserulah kepada manu­sia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh” (QS. al-Hajj 22:27) ; “… men­gerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi mereka yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. …” (QS.al-‘Imran 3:97).

Dari aspek ritual, haji mencerminkan kesadaran keagamaan seorang muslim lebih tinggi. Ibadah haji merupakan prosesi paling kolosal yang melibatkan jutaan ummat Islam seluruh dunia, yang mengatasi berbagai jarak konflik kepentingan dan individualitas. Prosesi haji mempunyai implikasi penyatuan seluruh gerak kemanu­siaan di bawah semangat transendental tauhid.

S i m b o l i s m e

Simbol adalah sesuatu yang menggambarkan sesuatu yang lain dengan mengungkap makna di balik yang ada. Simbol dapat berupa gerakan, suara, warna, bentuk, gambar, tulisan, atau bau. Fungsi utama simbol adalah untuk berkomunikasi, yaitu berkomunikasi antara wujud simbol dengan makna di dalamnya, antara teori dan praktek, antara manusia satu dengan lainnya. Menurut Victor Turner, dalam bukunya The Ritual Process: Structure and Anti-Structure, simbol ritual tidak bisa dilepaskan dengan proses sosial di masyarakat, bahkan ia dapat menjadi faktor dalam aksi sosial. Secara esensi simbol terlibat dalam proses sosial.

Jika dikaji secara mendalam, haji merupakan simbol ritual yang penuh dengan makna. Haji penuh dengan makna simbolik, baik dalam syarat-syarat maupun rukun-rukun haji. Syarat-syarat haji misalnya pelakunya seorang muslim, baligh, berakal sehat, mengetahui waktunya, suci dari segala najis (kotoran), dan ada ‘kemampuan’. Sedang rukun-rukunnya antara lain berpakaian ihram, tawaf, sya’i, wukuf, lempar jumrah, dan tahalul. Secara keseluruhan, haji menggambarkan simbol kehidupan manusia di dunia dan akhirat.

Haji dilakukan oleh orang Islam (muslim), yaitu orang yang telah menyatakan dirinya taat, menyerahkan diri, dan tunduk kepada Allah swt. agar terjamin keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat. Hal ini berarti bahwa status muslim merupakan status simbol yang menggambarkan keadaan atau apa yang seharusnya dilak­ukan oleh pemegang status tersebut. Dia berdisiplin sesuai dengan statusnya, sebagaimana status dokter yang harus berlaku sebagai dokter atau status guru yang harus berlaku sebagai guru.

Kehidupan manusia tidak lepas dari dimensi waktu. Dengan waktu itulah roda sejarah hidup manusia berjalan. Agar dapat mengikuti sejarah hidupnya, manusia harus memahami (sadar) waktu dengan akal sehat dan kedewasaan (baligh). Jika tidak, maka manusia akan terasing dalam sejarahnya, yang akan melahirkan stagnasi. Inilah simbol syarat haji yang harus mengetahui waktu. Jadi, penyelenggara dan pelaku haji harus sadar waktu sejak persiapan sampai seluruh rangkaian prosesi haji. Hal ini akan berdampak dengan tertanamnya disiplin waktu yang kuat, sehingga dapat mendukung GDN (Gerakan Disiplin Nasional).

Pelaku haji harus suci, baik jasmani maupun rokhaninya. Hati, pikiran, pakaian, dan seluruh anggota tubuh haruslah suci, terhindar dari segala bentuk kemunkaran. Seorang pelaku haji dilarang menyakiti, bertengkar, membunuh, berkata kotor, dan perbuatan negatif lainnya. Untuk menjadi haji yang mabrur, pelaku haji seharusnya tetap mengamalkan kesucian dan kebersihan dalam segala aspek kehidupan sepulang dari tanah suci. Oleh karena itu, tidak perlu ada Pak/Bu haji yang penipu, pembohong, pembuka aurat, atau bahkan koruptor, tidak perlu ada. Salah satu syarat haji adalah mampu, yaitu mampu melaksana­kan cara-cara haji, mampu ekonomi (biaya), kesehatan, dan keadaan perjalanan. Jika seseorang tidak memenuhi salah satunya, maka tidak wajib baginya berhaji. Hal ini bermakna simbolik bahwa suatu pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang benar-benar mampu dan ahli. Jika suatu pekerjaan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kerusakan pekerjaan itu.

Pakaian ihram, yaitu pakaian yang tidak berjahit yang biasa­nya berwarna putih, mempunyai makna simbolik yang sangat menda­lam. Tidak berjahit berarti tidak perlu dibuat-buat (bukan arti­fisial), apa adanya, jujur. Putih berarti suci atau bersih. Jadi, pakaian yang paling dilihat Allah adalah “pakaian taqwa” yang harus dipakai sebagai baju harian, yaitu “pakaian” yang tidak dibuat-buat, apa adanya, jujur, suci, dan bersih.

Semua yang berhaji berpakaian sama, yaitu pakaian ihram, sedangkan pakaian dunia seperti baju lusuh, kaos oblong, T-shirt, kain kebaya, jeans, PSH, baju militer, jas, dan sebagainya, haruslah dilepas. Padahal pakaian dunia itu sering sering dibang­gakan sebagai simbol status sosial. Apa artinya ? Semua status sosial duniawi, sejak gelandangan sampai presiden, tidak perlu terlalu dibanggakan karena semua itu akan lenyap pada suatu saat nanti. Satu-satunya status yang kelak akan dilihat Allah adalah status Muttaqin. Orang yang termulia di sisi Allah hanyalah yang paling bertaqwa (QS.49:13).

Tawaf, mengelilingi ka’bah tujuh kali, akan membentuk konfi­gurasi lingkaran. Konfigurasi lingkaran ini mempunyai makna simbolik yang mendalam. Seluruh isi jagat raya, baik jenis makro­kosmos maupun mikrokosmos, menunjukkan konfigurasi lingkaran. Dalam skala makro dapat diketahui bahwa bulan mengelilingi bumi sembari dia sendiri berputar pada porosnya. Bulan dan bumi, sembari bumi sendiri berputar pada porosnya, mengelilingi mata­hari. Planet-planet lain juga melingkari matahari. Dalam skala mikro dapat diketahui bahwa setiap benda mempunyai molekul yang terdiri dari atom-atom. Inti atom dikelilingi oleh elektron-elektron. Oleh karena itu, gerakan melingkar dalam
tawaf merupa­kan simbolisasi gerakan kehidupan yang terus-menerus disiplin.

Sya’i adalah berlari-lari kecil dari bukit Shofa ke Marwa, bolak-balik sampai tujuh kali. Ini merupakan pengikutan (menge­nang kembali) peristiwa ketika istri Nabi Ibrahim yaitu Siti Hajar mondar-mandir cari air untuk anaknya Ismail. Sya’i memberi makna simbolik tentang peran dan perjuangan seorang wanita. Peranan wanita dalam pembangunan menjadi hal yang sangat penting. Nabi Muhammad saw. menyatakan bahwa wanita itu tiang negara, jika wanitanya baik maka baiklah negara itu, tetapi jika wanitanya rusak maka rusaklah negara itu. Ibu (wanita) itu sekolah pertama bagi manusia (al-ummu al-madrasatul- ulaa). Bahkan Nabi saw menyatakan “al-jannatu tahta aqdamil-ummahaat” (surga itu di bawah telapak kaki para ibu / wanita).

Wukuf ialah tinggal di padang Arafah dalam waktu tertentu yang dipenuhi dengan kegiatan ibadah seperti shalat, dzikir, baca al-Quran, mendengarkan ceramah agama, dll. Padang Arafah adalah padang kehidupan dunia-akhirat. Kegiatan ibadah tersebut juga harus tetap dilakukan di “padang Arafah” lainnya apakah bernama Indonesia, United Kingdom, Jakarta, London, Semarang, Manchester, Solo, Leeds, dsb., bahkan di “padang Arafah” rumah kita masing-masing. Peristiwa ini menjadi tadzkirah (peringatan) bahwa hidup di dunia ini harus dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan bahwa di hari akhir (Kiamat) kelak semua manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk diadili apakah masuk surga atau neraka. Selain itu, ini juga mengingatkan bahwa “hidup di dunia hanyalah sementara”.

Sedangkan lempar jumrah merupakam gambaran permusuhan manusia dengan setan sebagai musuh yang sesungguhnya. Jadi, manusia lain itu bukan musuh kita. Musuh kita adalah setan, yaitu segala bentuk kemaksiatan / keburukan / kekafiran yang memang dibenci oleh Allah swt. Jika ada orang mencuri, misalnya, kita tidak memusuhi orangnya tetapi kita musuhi perbuatan mencurinya, karena mencuri itu setan, sehingga bagaimana caranya agar orang itu terpisah dengan musuhnya (tidak mencuri lagi).

Sepulang dari Makkah, apakah akan berbangga dengan gelar “haji” dan “hajjah”?, walaupun Rasulullah saw. sendiri tidak pernah disebut dengan “Haji Muhammad”. Gelar tersebut akan menuntut konsekuensi moral yang tidak ringan. Makna-makna simbolik tersebut di atas merupakan tuntutan moral yang harus dipenuhi oleh para hajiwan dan hajiwati. Hal-hal tersebut juga menjadi indikator apakah seseorang menjadi “haji mabrur” atau “haji mabur”. (mabur – Bhs Jawa, berarti terbang)

Kaum muslimin dapat berpartisipasi dalam pembangunan peradaban manusia dengan mengaktualisasikan nilai (makna simbolik) dalam ibadah haji. Haji dipenuhi dengan hal-hal yang positif seperti solidaritas sosial, kebenaran, kedisiplinan, kebersihan, kejujuran, kemampuan (professional) , dan keseriusan. Ummat Islam hendaknya tidak hanya “mengerjakan ibadah haji” tetapi harus meningkat pada “menegakkannya” , yaitu mengerjakan haji dengan benar sesuai dengan contoh Rasulullah saw. dan kemud­ian menterjemahkan makna simbolik haji dalam kehidupan kongkrit. Dengan kata lain, setelah melaksanakan “haji ritual” di Makkah dan padang Arafah dilanjutkan dengan “haji aktual” (mengamalkan ajaran haji ritual) dalam kehidupan sehari-hari di seluruh permukaan bumi Allah ini.

Wallaahu a’lam bish-shawwab

Muhammad Muhtar Arifin Sholeh

Sheffield

Cinta dan pengorbanan

Pengajian of Dearest Friday – PDF (Seri ke-2)

Jum’at, 13 Juni 2008

Bismillaahirrahmaan irrahiim

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.


ALLAH, MAHA PENGASIH (AR-RAHMAAN) MAHA PENYAYANG (AR-RAHIIM)

  1. Dalam surat al-Fatihah dua sifat Allah disebut sebanyak dua kali, yaitu ar-Rahmaan ar-Rahiim (Maha Pengasih Maha Penyayang), sifat yang paling sering disebut oleh orang mu’min. Setiap muslim/mu’min membaca dua sifat itu minimal sebanyak (2x17rekaat) =34 kali, setiap hari khususnya dalam shalat. Allah juga bersifat al-Waduud (Maha Mencintai).
  2. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang berarti Allah mengasihi semua mahluk-Nya, tetapi Dia hanya menyayangi orang-orang yang taat kepada-Nya. Air, api, udara, tumbuhan, hewan, dan sebagainya adalah bukti Maha Pengasih Allah terhadap manusia. Pahala dan surga yang dijanjikan adalah bukti Maha Penyayang Allah terhadap muslim/mu’min. Kesempatan mengantuk dan tidur adalah bukti kasih sayang Allah terhadap manusia
  3. Allah adalah pemilik dan sumber rasa kasih sayang dan cinta. Manusia hanya sekedar dititipi atau dipinjami rasa cinta atau kasih sayang. Manusia sewaktu lahir sebagai bayi belum ada cinta dan sewaktu dia kelak mati sudah tidak ada cinta lagi. Ke mana cinta ? Cinta diambil oleh Sang Pemilik yaitu Allah. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah segala-galanya, cinta yang paling tinggi dan paling besar. Apapun yang kita cintai harus dalam rangka cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Allah swt. berfirman dalam al-Quran, yang artinya, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS. Ali Imran 3:14).

Allah swt. Juga berfirman dalam al-Quran ayat lain, yang artinya, “Katakanlah, ‘Jika Bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri, kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya’. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (QS. at-Taubah 9:24).

Wallaahu ‘alam bishshawwab

Wa’alaikumus-salaam Wr. Wb.

M. Muhtar Arifin Sholeh

Sheffield UK