Demo di Luton

sebagian pendemo di depan balaikota

polisi berkuda(asli gede banget kudanya)

Ketika kita keluar untuk belanja sorenya, polisi ternyata sudah siap siaga. Demonya ternyata berpusat di depan balai kota dan kemudian melakukan march melalui beberapa jalan. Rusuh? Ramai iya…seperti pertandingan bola, banyak pendemo memakai topeng dan ada beberapa adegan kejar-kejaran dan orang menghindar panik karena menjauh dari pendemo yang bergerak. Gak berani dekat-dekat karena ada Khansa dan Ita, walaupun sepertinya cukup “aman”. Tidak banyak foto yang diambil, ada 2 video “pandangan langsung dari jarak aman” biar nanti diperkecil dulu kalo sempet diaplot. Yang pasti hari ini (25 Mei) ada acara street festival terbesar ke2 di UK, jadi suasanya agak beda dengan kemarin.

Aman terkendali

Videoanya disini dan disini

Advertisements

Demo Anti Muslim di Luton


Sebelum jumatan dimulai pendeta Andrew pengurus Treehouse (multifaith room milik kampus Bedfordshire) memberikan pengumuman bahwa akan ada demo anti –muslim di Luton yang akan melalui tempat pada muslim di Luton. Demo itu akan diadakan pada hari minggu jam 5 sore, father Andrew menyarankan agar jamaah berhati-hati. Selain itu beliau juga mengatakan bahwa penduduk Kristen Luton berada bersama saudara-saudara muslim Luton sebagai tetangga satu kota.

Selidik punya selidik demo itu diadakan oleh BNP atau British National Party semacam gerakan W.A.S.P atau Klu Klux Klan di AS. BNP merupakan partai politik sayap kanan yang lebih diarahkan kepada pemurnian Inggris dari pendatang asing. Dan orang Islam termasuk yang paling disasar selain Hindu, Sikh dan Yahudi. Terutama dibawah kepemimpinan baru ini. salah seorang teman Luton mengatakan bahwa biasanya mereka berpenampilan botak ( kok jadi kayak Neo Nazi, sih?). Yang temanku herankan lobi mereka ternyata cukup kuat untuk menggelar demo anti – muslim dikantong muslim terbesar di Luton.

Yah, moga-moga aja nggak ada yang kepancing bikin rusuh.

Mengenai British National Party di wikipedia

Ma’rrat Al-Numan

Adalah nama sebuah kota kecil di Syria. Kenapa jadi membahas kota ini? Setelah menonton film dokumenter “The Crusade” menyempatkan browsing di wikipedia.

Kota ini diserbu tentara Salib gelombang pertama yang kemudian membantai seluruh penduduk muslim dan kemudian memakannya. Ada yang bilang karena kelaparan, tetapi utamanya karena kebencian mereka terhadap orang Islam.

kutipan dari wikipedia

Radulph of Caen, another chronicler, wrote: “In Ma’arra our troops boiled pagan adults in cooking-pots; they impaled children on spits and devoured them grilled.”[1]

Radulph dari Caen menuliskan di Ma’arra pasukan kami merebus orang dewasa dalam panci masak dan menancapkan anak-anak di tombak dan kemudian memanggangnya

Saat mengepung kota mereka juga melemparkan kepala penduduk muslim diluar kota ke dalam kota tersebut mirip adegan Return of the King saat pasukan Orc melempar kepala pasukan Gondor yang mereka bantai di Osgiliath..

Pasukan ini juga yang kemudian masuk ke Yarusalem pada tahun 1099 dan membantai seluruh penduduk muslim dan Yahudi. Konon tumpukan mayatnya setinggi piramid (ada yang mengestimasikan 30.000 ribu korban tewas) semuanya dibakar.

Saat Yarusalem diambil alih, Paus Urban yang menyerukan Perang Salib sudah keburu meninggal.

Mempertahankan State Ibadah saat Mendengarkan Khutbah Jumat

copas dari milis
==================================================================
”Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli (kesibukan pekerjaan)”

Ada fenomena menarik saat melaksanakan ibadah Sholat Jumat, terutama adalah saat mendengarkan 2 Khutbah menjelang pelaksanaan 2 rakaat Sholat. Yaitu fenomena terkantuk-kantuk bahkan sampai tertidur lelap (baca: mendengkur). Sampai-sampai ada ungkapan bahwa terapi Insomnia terbaik adalah saat mendengarkan Khutbah Jumat. Fenomena yang kedua adalah meskipun berada di dalam Masjid dan mendengarkan khutbah, namun pikiran kita teraktivasi untuk memikirkan hal-hal di luar materi khutbah. Karena mendengarkan Khutbah Jumat adalah bagian dari Ibadah Sholat Jumat, idealnya saat itu kita sudah berada pada state ibadah, yaitu pada gelombang otak alpha menuju theta. Sehingga kita fokus mendengar dan menyimak esensi khutbah sambil menyiapkan diri masuk ke state Sholat (theta menuju delta).

Gangguan yang biasa terjadi sehingga kita sulit mempertahankan state ini, yang pertama adalah hanyut dan gelombang otak terus menurun keterusan sampai ke delta. Jika ini terjadi maka kita tertidur, bermimpi, dan indera auditory kita tidak mampu lagi menyerap pesan yang disampaikan Khotib. Gangguan yang kedua adalah kebalikannya, karena kita khawatir ketiduran, maka kita mengaktifkan pikiran kita memikirkan hal-hal lain, bisa kesibukan pekerjaan, urusan keluarga, rencana ke depan, berita di koran, prediksi kelanjutan sinetron atau hal-hal lain selain materi khutbah yang disampaikan khotib. Jika ini yang terjadi maka kita bangkit kembali ke gelombang Beta, sehingga seolah-olah kita berada di luar state Ibadah. Sekali lagi, mendengarkan khutbah adalah bagian dari Ibadah Jumat itu sendiri, bukan sekadar menunggu waktu Sholat Jumat, sehingga saat mendengarkan khutbah Jumat seharusnya kita mempertahankan state ibadah, yaitu fokus dan khusyu’.

Untuk mengatasi gangguan yang pertama, cara yang paling praktis adalah mengubah fisiologis kita. Jika kita merasa mulai hanyut dan mengantuk, mari mengubah posisi kepala, badan, maupun tangan dan kaki kita. Semisal saat mulai mengantuk kepala kita sedang tertunduk, mari segera dongakkan kepala kita. Jika saat itu pandangan kita tertuju ke pangkuan, mari segera arahkan pandangan ke arah Khotib meskipun belum tentu terlihat. Jika saat itu tulang belakang kita melengkung, mari segera kita tegakkan posisi badan kita. Mari pertahankan posisi fisiologis yang baru agar bisa mempertahkan state kita tetap khusyu’ mendengarkan khutbah dan menghindari rasa kantuk.

Jika upaya ini masih belum cukup menangkal rasa kantuk, mari kita lakukan aktivitas gerakan kecil yang tidak mengganggu jamaah lain. Misalnya dengan menyatukan jari-jari tangan sambil mempertemukan kedua ibu jari. Gerak-gerakkan kedua ibu jari secara halus sehingga saling bergesekan, menimbulkan sensasi yang menghalangi rasa kantuk. Cara lain adalah menempelkan ujung lidah ke langit-langit rongga mulut, kemudian gerak-gerakkan dengan halus sehingga menimbulkan sensasi yang bisa menghambat menurunnya gelombang otak. Kedua contoh gerakan ini Insya Allah cukup efektif tanpa terlihat jamaah lain sehingga tidak mengganggu kekhusyu’an jamaah di kanan kiri kita. Hentikan gerakan-gerakan itu saat kita sudah bisa menghilangkan kantuk, lakukan lagi saat rasa kantuk datang lagi.

Kita selalu diingatkan untuk mendengarkan, memperhatikan dan mengikuti Khotib agar mendapat rahmat. Bukankah mendapat rahmat Allah SWT adalah tujuan kita beribadah? Kita selalu diingatkan untuk menghindari berbicara atau bercakap-cakap saat mendengarkan khutbah. Bahkan mengingatkan orang lain yang sedang berbicara pun termasuk hal yang harus dihindari. Pesan ini termasuk upaya untuk mempertahankan state kita agar kita tidak kembali pada gelombang Beta yang berarti pula kita meninggalkan state Ibadah. Saat kita berbicara, bercakap-cakap, menanggapi percakapan, bahkan sekadar mengingatkan orang lain dengan perkataan ”Diam”, maka dapat dipastikan saat itu kita kehilangan kekhusyu’an mendengarkan dan memperhatikan khutbah.

Karena itu, untuk menghindari gangguan yang kedua, yaitu kemungkinan bangkitnya gelombang otak ke Beta, mari kita pertahankan pandangan, pendengaran dan perhatian kita hanya pada khutbah. Afirmasikan pada diri, ”Saat ini saya fokus mendengarkan, memperhatikan dan mengambil manfaat khutbah ini. Suara-suara yang lain hanya membuat saya semakin fokus pada khutbah. Setiap kata-kata khotib yang saya dengarkan, semakin membuat saya semakin fokus mengikuti khutbah dan memperoleh manfaat untuk diri saya”. Cukup dua tiga kali kita mengucapkan afirmasi dalam hati, selanjutnya kita tinggal menikmati efeknya, yaitu semakin fokus dan khusyu’ serta mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari khutbah yang kita dengarkan.

Insya Allah, dengan beberapa cara praktis di atas, kita bisa mempertahankan state Ibadah yang sudah kita bangun secara gradual sejak mendengarkan dan menjawab Adzan, mengambil air wudlu, dan melangkah masuk ke dalam Masjid. Kita mempertahankan state gelombang alpha menuju theta selama mendengarkan khutbah Jumat, dan mempersiapkan untuk masuk ke state gelombang thetha menuju delta, saat melaksanakan Sholat.

Subhanaka laa ’ilmalanaa, illa maa ’alamtana, innaka antal ’aliimul hakiim.

Sidoarjo, 8 Mei 2009

Abdul Aziez

http://www.nlp-cons. com