Nisfu Sya’ban

Oleh Ust Farid Nu’man


Bulan Sya’ban dan Keutamaannya


Bulan Sya’ban adalah bulan mulia yang disunnahkan bagi kaum muslimin untuk banyak berpuasa. Hal ini ditegaskan dalam hadits shahih berikut:


Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:


كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم حتى نقول لا يفطر، ويفطر حتى نقول لا يصوم، فما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم استكمل صيام شهر إلا رمضان، وما رأيته أكثر صياما منه في شعبان.


“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpuasa sehingga kami mengatakan dia tidak pernah berbuka, dan dia berbuka sampai kami mengatakan dia tidak pernah puasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyempurnakan puasanya selama satu bulan kecuali Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat dia berpuasa melebihi banyaknya puasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 1868)


Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha juga, katanya:


لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ


“Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam belum pernah berpuasa dalam satu bulan melebihi puasa pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 1869)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:


شعبان بين رجب ورمضان يغفل الناس عنه ترفع فيه أعمال العباد فأحب أن لا يرفع عملي إلا وأنا صائم

“Bulan Sya’ban, ada di antara bulan Rajab dan Ramadhan, banyak manusia yang melalaikannya. Saat itu amal manusia diangkat, maka aku suka jika amalku diangkat ketika aku sedang puasa.” (HR. An Nasai, 1/322 dalam kitab Al Amali. Status hadits: Hasan (baik). Lihat As Silsilah Ash Shahihah No. 1898. Lihat juga Tamamul Minnah Hal. 412. DarAr Rayyah)


Adakah Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban?


Ya, sebagamana diriwayatkan oleh banyak sahabat nabi, bahwa Beliau bersabda:

يطلع الله تبارك و تعالى إلى خلقه ليلة النصف من شعبان ، فيغفر لجميع خلقه
إلا لمشرك أو مشاحن

“Allah Ta’ala menampakkan diriNya kepada hambaNya pada malam nishfu sya’ban, maka Dia mengampuni bagi seluruh hambaNya, kecuali orang yang musyrik atau pendengki.” (Hadits ini Shahih menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani. Diriwayatkan oleh banyak sahabat nabi, satu sama lain saling menguatkan, yakni oleh Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al Khusyani, Abdullah bin Amr, ‘Auf bin Malik, dan ‘Aisyah. Lihat kitab As Silsilah Ash Shahihah, 3/135, No. 1144. Darul Ma’arif. Juga kitab Shahih Al Jami’ Ash Shaghir wa Ziyadatuhu, 2/785. Al Maktab Al Islami. Namun, dalam kitab Misykah Al Mashabih, justru Syaikh Al Albani mendhaifkan hadits ini, Lihat No. 1306, tetapi yang benar adalah shahih karena banyaknya jalur periwayatan yang saling menguatkan)


Hadits ini menunjukkan keutamaan malam nishfu sya’ban (malam ke 15 di bulan Sya’ban), yakni saat itu Allah mengampuni semua makhluk kecuali yang menyekutukanNya dan para pendengki. Maka wajar banyak kaum muslimin mengadakan ritual khusus pada malam tersebut baik shalat atau membaca Al Quran, dan ini pernah dilakukan oleh sebagian tabi’in.. Tetapi, dalam hadits ini –juga hadits lainnya- sama sekali tidak disebut adanya ibadah khusus tersebut pada malam itu, baik shalat, membaca Al Quran, atau lainnya. Oleh, karena itu, wajar pula sebagian kaum muslimin menganggap itu adalah hal yang bid’ah (mengada-ngada dalam agama). Sebenarnya membaca Al Quran, Shalat malam, memperbanyak zikir pada malam nishfu sya’ban adalah perbuatan baik, dan merupakan pengamalan dari hadits di atas, namun yang menjadi ajang perdebatan adalah tentang ‘cara’nya, apakah beramai-ramai ke masjid lalu di buat paket acara secara khusus, atau melakukannya secara sendirian baik di rumah atau masjid dengan acara yang tidak baku dan tidak terik
at.


Berikut adalah Fatwa Para ulama tentang acara ritual Nishfu Sya’ban:


1. Imam An Nawawi (bermadzhab syafi’i)


Beliau Rahimahullah memberikan komentar tentang mengkhususkan shalat pada malam nishfu sya’ban, sebagai berikut:


“Shalat yang sudah dikenal dengan sebutan shalat Ragha’ib yaitu shalat 12 rakaat yang dilakukan antara Maghrib dan Isya’, yakni malam awal hari Jumat pada bulan Rajab, dan shalat malam pada nishfu sya’ban seratus rakaat, maka dua shalat ini adalah bid’ah munkar yang buruk, janganlah terkecoh karena keduanya disebutkan dalam kitab Qutul Qulub[3] dan Ihya Ulumuddin[4], dan tidak ada satu pun hadits yang menyebutkan dua shalat ini, maka semuanya adalah batil.” Demikian komentar Imam An Nawawi. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 2/379. Dar ‘Alim Al Kitab)


2. Syaikh ‘Athiyah Saqr (Mufti Mesir)


Beliau Rahimahullah ditanya apakah ada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengadakan acara khusus pada malam nishfu sya’ban?


Beliau menjawab (saya kutip secara ringkas):

“Telah pasti dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau melakukan kegiatan pada bulan Sya’ban yakni berpuasa. Sedangkan qiyamul lail-nya banyak beliau lakukan pada setiap bulan, dan qiyamul lailnya pada malam nisfhu sya’ban sama halnya dengan qiyamul lail pada malam lain. Hal ini didukung oleh hadits-hadits yang telah saya sampaikan sebelumnya, jika hadits tersebut dhaif maka berdalil dengannya boleh untuk tema fadhailul ‘amal (keutamaan amal shalih), dan qiyamul lailnya beliau sebagaimana disebutkan dalam hadits dari ‘Aisyah yang telah saya sebutkan. Aktifitas yang dilakukannya adalah aktifitas perorangan, bukan berjamaah. Sedangkan aktifitas yang dilakukan manusia saat ini, tidak pernah ada pada masa Rasulullah, tidak pernah ada pada masa sahabat, tetapi terjadi pada masa tabi’in.


Al Qasthalani menceritakan dalam kitabnya Al Mawahib Al Laduniyah (Juz.2, Hal. 259), bahwa tabi’in dari negeri Syam seperti Khalid bin Mi’dan, dan Mak-hul, mereka berijtihad untuk beribadah pada malam nishfu sya’ban. Dari merekalah manusia beralasan untuk memuliakan malam nishfu sya’ban. Diceritakan bahwa telah sampai kepada mereka atsar israiliyat [5] tentang hal ini. Ketika hal tersebut tersiarkan, maka manusia pun berselisih pendapat, maka di antara mereka ada yang mengikutinya. Namun perbuatan ini diingkari oleh mayoritas ulama di Hijaz seperti Atha’, Ibnu Abi Malikah, dan dikutip dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam bahwa fuqaha Madinah juga menolaknya, yakni para sahabat Imam Malik dan selain mereka, lalu mereka mengatakan: “Semua itu bid’ah!”


Kemudian Al Qasthalani berkata: “Ulama penduduk Syam[6] berbeda pendapat tentang hukum menghidupkan malam nishfu sya’ban menjadi dua pendapat: Pertama, dianjurkan menghidupkan malam tersebut dengan berjamaah di masjid., Khalid bin Mi’dan dan Luqman bin ‘Amir, dan selainnya, mereka mengenakan pakain bagus, memakai wewangian, bercelak, dan mereka menghidupkan malamnya dengan shalat. Hal ini disepakati oleh Ishaq bin Rahawaih, dia berkata tentang shalat berjamaah pada malam tersebut: “Itu bukan bid’ah!” Hal ini dikutip oleh Harb Al Karmani ketika dia bertanya kepadanya tentang ini. Kedua, bahwa dibenci (makruh) berjamaah di masjid untuk shalat, berkisah, dan berdoa pada malam itu, namun tidak mengapa jika seseorang shalatnya sendiri saja. Inilah pendapat Al Auza’i, imam penduduk Syam dan faqih (ahli fiqih)-nya mereka dan ulamanya mereka.” Selesai kutipan dari Syaikh ‘Athiyah Saqr Rahimahullah. (Fatawa Al Azhar, Juz. 10, Hal. 131. Syamilah)


3. Samahatusy Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah


Beliau menjelaskan tentang hukum mengkhususkan ibadah pada malam Nishfu Sya’ban:

“Dan di antara bid’ah yang di ada-adakan manusia pada malam tersebut adalah: bid’ahnya mengadakan acara pada malam nishfu sya’ban, dan mengkhususkan siang harinya berpuasa, hal tersebut tidak ada dasarnya yang bisa dijadikan pegangan untuk membolehkannya. Hadits-hadits yang meriwayatkan tentang keutamaannya adalah dha’if dan tidak boleh menjadikannya sebagai pegangan, sedangkan hadits-hadits tentang keutamaan shalat pada malam tersebut, semuanya adalah maudhu’ (palsu), sebagaimana yang diberitakan oleh kebanyakan ulama tentang itu, Insya Allah nanti akan saya sampaikan sebagian ucapan mereka, dan juga atsar (riwayat) dari sebagian salaf dari penduduk Syam dan selain mereka. Jumhur (mayoritas) ulama berkata: sesungguhnya acara pada malam itu adalah bid’ah, dan hadits-hadits yang bercerita tentang keutamaannya adalah dha’if dan sebagiannya adalah palsu. Di antara ulama yang memberitakan hal itu adalah Al Hafizh Ibnu Rajab dalam kitabnya Latha’if alMa’arif dan lainnya. Ada pun hadits-hadits dha’if hanyalah bisa diamalkan dalam perkara ibadah, jika ibadah tersebut telah ditetapkan oleh dalil-dalil yang shahih, sedangkan acara pada malam nishfu sya’ban tidak ada dasar yang shahih, melainkan ‘ditundukkan’ dengan hadits-hadits dha’if.” (Fatawa al Lajnah ad Daimah lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’, 4/281) Sekian kutipan dari Syaikh Ibnu Baz.

Larangan Pada Bulan Sya’ban


Pada bulan ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang berpuasa pada yaumusy syak (hari meragukan), yakni sehari atau dua hari menjelang Ramadhan. Maksud hari meragukan adalah karena pada hari tersebut merupakan hari di mana manusia sedang memastikan, apakah sudah masuk 1 Ramadhan atau belum, apakah saat itu Sya’ban 29 hari atau digenapkan 30 hari, sehingga berpuasa sunah saat itu amat beresiko, yakni jika ternyata sudah masuk waktu Ramadhan, ternyata dia sedang puasa sunah. Tentunya ini menjadi masalah.


Dalilnya, dari ‘Ammar katanya:

مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ


“Barang siapa yang berpuasa pada yaumus syak, maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qasim (Nabi Muhammad) Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Bukhari, Bab Qaulun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Idza Ra’aytumuhu fa shuumuu)


Para ulama mengatakan, larangan ini adalah bagi orang yang mengkhususkan berpuasa pada yaumusy syak saja. Tetapi bagi orang yang terbiasa berpuasa, misal puasa senin kamis, puasa Nabi Daud, dan puasa sunah lainnya, lalu dia melakukan itu bertepatan pada yaumusy syak , maka hal ini tidak dilarang berdasarkan riwayat hadits berikut:


لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ

Janganlah salah seorang kalian mendahulukan Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali bagi seseorang yang sedang menjalankan puasa kebiasaannya, maka puasalah pada hari itu.” (HR. Bukhari No. 1815)

Sumber: http://abuhudzaifi.multiply.com/journal/item/152

selamat jalan Atok sekeluarga


Foto tahun September 2008 di rumah Atok


They took us in when we arrived in UK, complete strangers providing shelter, accompanied us finding a house in Luton. Rasanya seperti punya keluarga yang di”tua’kan di UK ini, Bang Arman minta dipanggil Atok (Datuk) buat Khansa, dan Khansa yang sekarang udah pinter lari seneng banget ditemenin teteh-tetehnya…

nggak nyangka mereka yang pergi duluan pindah ke Australia karena Atok pindah kerja ke Perth. nganterin keluarga ke Atok ke Bandara

Moga kita bisa bertemu lagi…makasih Bang Arman, Tante Helmina, teteh Abil dan Teteh Icha, semoga dilancarkan perjalanannya, dimudahkan urusannya, selalu berada dalam lindungan dan Hidayah-nya, dimudahkan rezekinya, sehat selalu sekeluarga…Amiiin

“Whoever seeks refuge with Allah against your evil, then do not harm him. Whoever asks you by Allah, then give him. Whoever invites you, then accept his invitation. Whoever does a favor for you or an act of kindness, then repay him in a similar manner; but if you do not find that which you can reward him with, then supplicate Allah for him continuously, until you think you have repaid him.” (Ahmed #6106) source

PS: Popo Dayo bisa ketemuan ama Bang Arman sekeluarga ,tuw!

Wudhu, Tayamum,dan Listrik statis

Dari Milis…

Assalaamu’alaikum, wr, wb.
Teman saya bertanya kepada saya, “Kamu sering kesetrum listrik statis waktu memegang handle pintu kantor kita?”
Saya jawab, “Iya, betul sekali. Tetapi hanya waktu winter saja.”
Setiap musim winter tiba, saya memang sering merasa kesetrum ketika memegang handle pintu yang terbuat dari bahan logam seperti almunium.
Ia bertanya, “Tahukah kamu mengapa hal ini tidak terjadi di musim yang lain?”
Saya jawab, “Tidak tahu.”
Kata teman saya, “Karena udara sangat kering di musim winter.”
Saya tanya, “Kok bisa begitu?”
Jawab dia, “Karena molekul air yang mengembun di tubuh kita akan menetralkan listrik statis yang terakumulasi di tubuh kita. Di musim winter, udara sangat kering, sehingga tidak ada molekul air di permukaan kulit kita. Elektron yang terkumpul di tubuh kita, yang kebanyakan berasal dari gesekan jaket yang kita kenakan, akan terus terakumulasi. Dan begitu tangan kita menyentuh logam yang merupakan konduktor yang baik, elektron yang terakumulasi tadi langsung “meloncat” dari tubuh kita ke logam tsb. Itu adalah fenomena “petir mini”, dan ujung jarimu yang merasa seperti tersambar petir. Hal ini mirip dengan fenomena penangkal petir. Di atas ada gumpalan uap air yang kaya akan elektron. Elektron elektron itu akan “meloncat” ke bumi melalui titik titik terdekat dengan awan yang terbuat bahan konduktor yang bagus.”
Saya terkesima, dan berujar, “Oooo, begitu ya, ceritanya.”
Ia pun dengan semangat meneruskan kuliahnya, “Jadi, kalau kamu tidak ingin tersambar pertir mini alias kesetrum listrik statis, sebelum kau memegang handle pintu, basahilah dulu tanganmu dengan air. Atau, kalau tidak ada air, salurkanlah elektron di tubuhmu ke bumi dengan menebakkan tanganmu ke tanah atau tembok.”
Saya terperangah dengan kalimat terakhir itu. Saya terperanjat. Saya terkagum kagum. Saya bertakbir: Allahu Akbar!
Berpuluh puluh tahun saya bertanya tanya tentang tayamum sebagai pengganti wudhu, berpuluh puluh tahun naluri keingintahuan saya pendam. Hari ini, temanku yang notabene seorang atheis yang menjelaskannya dengan gamblang dengan teori listrik statis; sebuah ilmu sederhana yang sudah aku pelajari sejak bangku SD dan selalu kudapatkan pelajaran itu di jenjang sekolah berikutnya.
Dulu, saya mengira bahwa (satu satunya) hikmah berwudhu adalah membersihkan badan dari kotoran yang menempel di tubuh kita. Tetapi saya tidak habis fikir, bagaimana bisa wudhu diganti dengan tayammum yang dilakukan dengan membasuhkan debu ke wajah dan telapak tangan? Ternyata “kotoran” yang ada di dalam tubuh kita ternyata bukan hanya debu yang menempel ke tubuh kita. Ada jenis “kotoran” yang tidak terlihat oleh mata, jauh lebih berbahaya bila tidak segera di”buang”. “Kotoran” itu bernama elektron, yang apabila terlalu banyak terakumulasi di tubuh kita bisa merusak kesetimbangan sistem elektrolit cairan di dalam tubuh kita.
Molekul molekul air H2O yang bersifat polar sangat mudah menyerap elektron elektron yang terakumulasi di tubuh kita. Hanya dengan mengusapkan air ke permukaan kulit saja, maka “kotoran” elektron itu dengan mudah “terbuang” dari tubuh kita. Sekarang saya faham, mengapa Rasulullah SAW pernah “mandi besar” hanya dengan menggunakan air satu ciduk saja, kurang lebih satu liter saja. Rupa rupanya yang dibutuhkan hanyalah membasahi seluruh permukaan tubuh dengan air, tanpa harus mengguyurnya; dan itu pulalah sebenarnya definisi syar’i wudhu dan mandi besar, hanya perlu membasuh saja, dan bukan mengguyur. Ternyata, hanya dengan membasuh kulit tubuh dengan air itulah kelebihan elektron di permukaan tubuh kita akan dinetralkan.
Dengan teori “kotoran” elektron listrik statis inilah akhirnya rahasia di balik tayamum sebagai pengganti wudhu menjadi terang benderang di mata saya; bahwa air yang dibasuhkan ke kulit tubuh akan menetralkan listrik statis di tubuh kita, dan penetralan itu bisa diganti dengan menebakkan tangan ke tanah dan mengusapkan debu wajah dan telapak tangan. Pernah ada kisah seorang sahabat bergulung gulung di tanah karena ia harus mandi besar dan tidak ada air. Ia mengira, bahwa ia harus melumuri tubuhnya dengan debu, sebab ia beranalogi dengan wudhu dan tayamum. Kalau wudhu yang mengusap hanya wajah, kepala, tangan dan kaki difanti dengan tayamum yang mengusap wajah dan telapak tangan, maka mandi janabat yang harus membasuh seluruh tubuh diganti dengan tayamum seluruh tubuh. Rasulullah pun menjelaskan bahwa tayamum untuk mandi janabah dilakukan sama persis dengan tayamum sebagai pengganti wudhu, yaitu cukup wajah dan telapak tangan saja.
Subhaanallaah. … Satu lagi Allah tunjukkan kepada saya bukti kebenaran Alqur’an sebagai wahyu Allah dan bukan karangan manusia:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّـهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَـٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴿٦﴾
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (6) QS AlMaidah.

O ye who believe! when ye prepare for prayer, wash your faces, and your hands (and arms) to the elbows; Rub your heads (with water); and (wash) your feet to the ankles. If ye are in a state of ceremonial impurity, bathe your whole body. But if ye are ill, or on a journey, or one of you cometh from offices of nature, or ye have been in contact with women, and ye find no water, then take for yourselves clean sand or earth, and rub therewith your faces and hands, Allah doth
not wish to place you in a difficulty, but to make you clean, and to complete his favour to you, that ye may be grateful.
(6)

Merasa mendapatkan “ilmu baru”, saya pun mengklarifikasi hal ini ke mbah Google. Rupa rupanya saya ketinggalan jaman. Ternyata literatur mengenai wudhu, tayamum dan listrik statis ini sudah berjibun jumlahnya. Inilah salah satunya:
Untungnya saya melakukan literatur search kecil kecilan sebelum membagi pengalaman saya di atas. Jika tidak, bisa bisa saya mendapat gelar baru: Plagiator!
Alaa kulli haal, above all, mudah mudahan sharing pengalaman saya ini bisa menambah keyakinan bagi rekan rekan semua akan kebenaran Alqur’an. Sukur sukur ada yang bersedia menjelaskan lebih detail. Amin.
Wassalam,

Rois Fatoni

Dosen Teknik Kimia Univ. Muhammadiyah Surakarta
Graduate Student
Department of Chemical Engineering
University of Waterloo

==============================================================

[Islam] Kirim Doa

Kirim Alfatihah Pada Orang Meninggal Sampaikah?


Yth. pak pengasuh mohon jawaban Bapak sampaikah kiriman alfatihah dan bacaan
yang lainnya kepada orang yang sudah meninggal ?

Azmul
Palembang
2003-08-11 15:56:45


Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berdo'a dan mengahadiahkan pahala
ibadah kepada orang yang telah meninggal dunia. Secara umum, ada tiga
pendapat besar yang saling berbeda dalam menjelaskan masalah ini.

Pendapat pertama mengatakan bahwa orang yang sudah mati tidak bisa dikirimi
pahala ibadah orang yang masih hidup, kecuali hanya pada tiga hal saja
seperti yang diterangkan dalam hadits masyhur.

Pendapat kedua mengatakan bahwa orang yang sudah mati masih bisa menerima
pahala dari ibadah yang dilakukan orang yang masih hidup. Dengan syarat
bahwa ibadah itu bentuknya iabadah maliyah (harta benda) dan bukan ibadah
badaniyah.

Pendapat ketiga mengatakan bahwa baik ibadah maliyah maupun ibadah
badaniyah, keduanya bisa dihadiahkan kepada orang yang sudah meniggal.

Secara rinci, dalil dan hujjah dari masing-masing pendapat itu dapat kami
uraikan lebih rinci berikut ini :

A. PENDAPAT PERTAMA :

Orang mati tidak bisa menerima pahala ibadah orang yang masih hidup. Dalil
atau hujjah yang digunakan adalah berdasarkan dalil:

"Yaitu bahwasannya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain
dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah
diusahakannya" (QS. An-Najm:38-39)

" Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu
tidak dibalasi kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan" (QS. Yaasiin:54)

" Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa
(dari kejahatan) yang dikerjakannya". (QS. Al Baqaraah 286)

Ayat-ayat diatas adalah sebagai jawaban dari keterangan yang mempunyai
maksud yang sama, bahwa orang yang telah mati tidak bisa mendapat tambahan
pahala kecuali yang disebutkan dalam hadits:

"Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal:
Sedekah jariyah, anak yang shalih yang mendo'akannya atau ilmu yang
bermanfaat sesudahnya"(HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa'I dan Ahmad).


Bila Anda menemukan orang yang berpendapat bahwa orang yang sudah wafat
tidak bisa menerima pahala ibadah dari orang yang masih hidup, maka dasar
pendapatnya antara lain adalah dalil-dalil di atas.

Tentu saja tidak semua orang sepakat dengan pendapat ini, karena memang ada
juga dalil lainnya yang menjelaskan bahwa masih ada kemungkinan sampainya
pahala ibadah yang dikirmkan / dihadiahkan kepada orang yang sudah mati.

B. PENDAPAT KEDUA

Pendapat ini membedakan antara ibadah badaniyah dan ibadah maliyah. Pahala
ibadah maliyah seperti shadaqah dan hajji, bila diniatkan untuk dihadiahkan
kepada orang yang sudah meninggal akan sampai kepada mayyit.

Sedangkan ibadah badaniyah seperti shalat dan bacaan Alqur'an tidak sampai.
Pendapat ini merupakan pendapat yang masyhur dari Madzhab Syafi'i dan
pendapat Madzhab Malik.

Mereka berpendapat bahwa ibadah badaniyah adalah termasuk kategori ibadah
yang tidak bisa digantikan orang lain, sebagaimana sewaktu hidup seseorang
tidak boleh menyertakan ibadah tersebut untuk menggantikan orang lain. Hal
ini sesuai dengan sabda Rasul SAW:

"Seseorang tidak boleh melakukan shalat untuk menggantikan orang lain, dan
seseorang tidak boleh melakukan shaum untuk menggantikan orang lain, tetapi
ia memberikan makanan untuk satu hari sebanyak satu mud gandum"(HR
An-Nasa'I).

Namun bila ibadah itu menggunakan harta benda seperti ibadah haji yang
memerlukan pengeluaran dana yang tidak sedikit, maka pahalanya bisa
dihadiahkan kepada orang lain termasuk kepada orang yang sudah mati. Karena
bila seseorang memiliki harta benda, maka dia berhak untuk memberikan kepada
siapa pun yang dia inginkan. Begitu juga bila harta itu disedekahkan tapi
niatnya untuk orang lain, hal itu bisa saja terjadi dan diterima pahalanya
untuk orang lain. Termasuk kepada orang yang sudah mati.

Ada hadits-hadits yang menjelaskan bahwa sedekah dan haji yang dilakukan
oleh seorang hamba bisa diniatkan pahalanya untuk orang yang sudah
meninggal. Misalnya dua hadits berikut ini :

Dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia
ketika ia tidak ada ditempat, lalu ia datang kepada Nabi SAW unntuk
bertanya:" Wahai Rasulullah SAW sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang
saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat
baginya ? Rasul SAW menjawab: Ya, Saad berkata:" saksikanlah bahwa kebunku
yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya" (HR Bukhari).

Dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainnah datang kepada Nabi
SAW dan bertanya:" Sesungguhnya ibuku nadzar untuk hajji, namun belum
terlaksana sampai ia meninggal, apakah saya melakukah haji untuknya ? rasul
menjawab: Ya, bagaimana pendapatmu kalau ibumu mempunyai hutang, apakah kamu
membayarnya ? bayarlah hutang Allah, karena hutang Allah lebih berhak untuk
dibayar (HR Bukhari)

C. PENDAPAT KETIGA

Do'a dan ibadah baik maliyah maupun badaniyah bisa bermanfaat untuk mayyit
berdasarkan dalil berikut ini:

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka
berdo'a :" Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudar-saudar kami yang
telah beriman lebih dahulu dari kami" (QS Al Hasyr: 10)

Dalam ayat ini Allah SWT menyanjung orang-orang yang beriman karena mereka
memohonkan ampun (istighfar) untuk orang-orang beriman sebelum mereka. Ini
menunjukkan bahwa orang yang telah meninggal dapat manfaat dari istighfar
orang yang masih hidup.

a. Dalam hadits banyak disebutkan do'a tentang shalat jenazah, do'a setelah
mayyit dikubur dan do'a ziarah kubur.

Tentang do'a shalat jenazah antara lain, Rasulullah SAW bersabda:

" Dari Auf bin Malik ia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah SAW -
setelah selesai shalat jenazah-bersabda:" Ya Allah ampunilah dosanya,
sayangilah dia, maafkanlah dia, sehatkanlah dia, muliakanlah tempat
tinggalnya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah dia dengan air es dan air
embun, bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih bersih dari
kotoran, gantikanlah untuknya tempat tinggal yang lebih baik dari tempat
tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih
baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka"
(HR Muslim).

Tentang do'a setelah mayyit dikuburkan, Rasulullah SAW bersabda:

Dari Ustman bin 'Affan ra berkata:" Adalah Nabi SAW apabila selesai
menguburkan mayyit beliau beridiri lalu bersabda:" mohonkan ampun untuk
saudaramu dan mintalah keteguhan hati untuknya, karena sekarang dia sedang
ditanya" (HR Abu Dawud)

Sedangkan tentang do'a ziarah kubur antara lain diriwayatkan oleh 'Aisyah ra
bahwa ia bertanya kepada Nabi SAW:

" bagaimana pendapatmu kalau saya memohonkan ampun untuk ahli kubur ? Rasul
SAW menjawab, "Ucapkan: (salam sejahtera semoga dilimpahkan kepada ahli
kubur baik mu'min maupun muslim dan semoga Allah memberikan rahmat kepada
generasi pendahulu dan generasi mendatang dan sesungguhnya -insya Allah-
kami pasti menyusul) (HR Muslim).

b. Dalam Hadits tentang sampainya pahala shadaqah kepada mayyit

Dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia
ketika ia tidak ada ditempat, lalu ia datang kepada Nabi SAW unntuk
bertanya:" Wahai Rasulullah SAW sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang
saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat
baginya ? Rasul SAW menjawab: Ya, Saad berkata:" saksikanlah bahwa kebunku
yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya" (HR Bukhar i).

c. Dalil Hadits Tentang Sampainya Pahala Saum

Dari 'Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda:" Barang siapa yang meninggal
dengan mempunyai kewajiban shaum (puasa) maka keluarganya berpuasa
untuknya"(HR Bukhari dan Muslim)

d. Dalil Hadits Tentang Sampainya Pahala Haji

Dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainnah datang kepada Nabi
SAW dan bertanya:" Sesungguhnya ibuku nadzar untuk hajji, namun belum
terlaksana sampai ia meninggal, apakah saya melakukah haji untuknya ? rasul
menjawab: Ya, bagaimana pendapatmu kalau ibumu mempunyai hutang, apakah kamu
membayarnya ? bayarlah hutang Allah, karena hutang Allah lebih berhak untuk
dibayar (HR Bukhari)

e. Bebasnya utang mayyit yang ditanggung oleh orang lain sekalipun bukan
keluarga. Ini berdasarkan hadits Abu Qotadah dimana ia telah menjamin untuk
membayar hutang seorang mayyit sebanyak dua dinar. Ketika ia telah
membayarnya nabi SAW bersabda: Artinya:" Sekarang engkau telah mendinginkan
kulitnya" (HR Ahmad)

f. Dalil Qiyas

Pahala itu adalah hak orang yang beramal. Jika ia menghadiahkan kepada
saudaranya yang muslim, maka hal itu tidak ad halangan sebagaimana tidak
dilarang menghadiahkan harta untuk orang lain di waktu hidupnya dan
membebaskan utang setelah wafatnya. Islam telah memberikan penjelasan
sampainya pahala ibadah badaniyah seperti membaca Alqur'an dan lainnya
diqiyaskan dengan sampainya puasa, karena puasa dalah menahan diri dari yang
membatalkan disertai niat, dan itu pahalanya bisa sampai kepada mayyit. Jika
demikian bagaimana tidak sampai pahala membaca Alqur'an yang berupa
perbuatan dan niat.

Menurut pendapat ketiga ini, maka bila seseorang membaca Al-Fatihah dengan
benar, akan mendatangkan pahala dari Allah. Sebagai pemilik pahala, dia
berhak untuk memberikan pahala itu kepada siapa pun yang dikehendakinya
termasuk kepada orang yang sudah mati sekalipun. Dan nampaknya, dengan
dalil-dalil inilah kebanyakan masyarakat di negeri kita tetap mempraktekkan
baca Al-Fatihah untuk disampaikan pahalanya buat orang tua atau kerabat dan
saudra mereka yang telah wafat.

Tentu saja masing-masing pendapat akan mengklaim bahwa pendapatnyalah yang
paling benar dan hujjah mereka yang paling kuat. Namun sebagai muslim yang
baik, sikap kita atas perbedaan itu tidak dengan menjelekkan atau melecehkan
pendapat yang kiranya tidak sama dengan pendapat yang telah kita pegang
selama ini. Karena bila hal itu yang diupayakan, hanya akan menghasilkan
perpecahan dan kerusakan persaudaraan Islam.

Sudah waktunya bagi kita untuk bisa berbagi dengan sesama muslim dan
berlapang dada atas perbedaan / khilafiyah dalam masalah agama. Apalagi bila
perbedaan itu didasarkan pada dalil-dalil yang memang mengarah kepada
perbedaan pendapat. Dan fenomena ini sering terjadi dalam banyak furu`
(cabang) dalam agama ini. Tentu sangat tidak layak untuk menafikan pendapat
orang lain hanya karena ta`asshub atas pendapat kelompok dan golongan saja.
Wallahu a`lam bis-shawab.

Wassalamu `alaikum Wr. Wb.

www.syariahonline.com <http://www.syariahonline.com/>

------------------

semoga bermanfaat