Bara Syafiyah

“Berhenti! Kurang ajar! Gadis gilaaa!”Syafiyah berlari lincah. Zig-zag dan seketika menyelinap di antara kerumunan manusia. Meninggalkan dua tentara israel yang mengejarnya dengan nafas terengah-engah.”Gadis gila ! Ia menikam Simon dan […]

“Berhenti! Kurang ajar! Gadis gilaaa!”

Syafiyah berlari lincah. Zig-zag dan seketika menyelinap di antara kerumunan manusia. Meninggalkan dua tentara israel yang mengejarnya dengan nafas terengah-engah.

“Gadis gila ! Ia menikam Simon dan mengambil senjataku!” seru yang berbadan besar sambil terus mengejar.

“Ia mengambil uangku! Sial!” geram si israel botak.

Mereka berdua menatap kejauhan setengah berjinjit. Kemana gadis itu ? Seperti hilang di tengah maraknya pasar. Dan … napas si botak mulai terdengar ngik-ngik. Tarik napas, hembuskan. Atur nafas …, pelan-pelan. Fffffhuiiih, kelihatannya capai sekali!

Syafiyah tertawa-tawa. Agak jauh ia berhenti, mengusap peluh di dahi dan ujung jilbabnya. Sebuah senjata dan sebuah dompet dengan uang yang lumayan banyak! Surat-surat penting ? Wah, dirobek-robek kecil saja dan … seru juga bila diserakkan, di sepanjang pasar! Syafiyah nyengir, sibuk membolak balik isi dompet. Sesekali ia melihat kebelakang mencari dua tentara israel yang baru saja diperdayainya!

Nah … nah … itu si botak dan temannya! Susah payah menyeruak kerumunan pasar!

Shafiyah menyimpan belati di balik kaos kaki, dompet di dalam sakunya, menyandang senapan rampasan dan … hup! Melompat dan berlari lagi …

DOR ! DOR ! DOR !

Akhirnya .. keluar juga letusan itu! Pengecut! Shafiyah berlari lebih cepat. Seperti ada kekuatan penuh yang mendorongnya laju bersama angin. Begitu ringan. Seperti terbang.

DOR ! DOR ! DOR !

Orang-orang di Pasar menyingkir. Panik!

Tiba-tiba …

“Siapa yang kalian kejar ?”
“Ya, biar kami bantu!”

Satu, dua, lima .., sepuluh tentara Israel yang tengah berjaga di sekitar Pasar WAhd, lengkap dengan senjata laras panjang mereka, bergabung dengan dua tentara tadi.

“Si perampas! kami mengejar si perampas!”

“Ya, dia sangat berbahaya! Dia membunuh satu rekan kami!”

“Mana pemuda itu?” tanya mereka serempak. Buas.

Orang-orang Pasar Wahd yang mendengar percakapan itu menyimpan tawa …, juga doa! Orang-orang kafir itu pasti tengah memburu Shafiyah! Muslimah kecintaan Gaza!

###

“Assalamu’alaikum!”

Beberapa suara berat menjawab salam Shafiyah. Suara Abu Umar dan beberapa anggota Izzudin Al Qosam.

“Dua laras panjang, tiga laras pendek, sekanting uang dan empat granat tangan,” Shafiyah menyerahan semua itu dari balik pintu. “Apakah Abu Umar berkenan menerimanya ?”

Abu Umar menguakkan pintu. “Tidakkah lebih baik ukhtifillah Shafiyah masuk ? Istri saya ada di belakang.”

“Maaf, saya terburu-buru.”

“Kalau begitu jazakillah khoiran. Fiiamanillah ukhti mujahidah!”

“Allahu Akbar! Assalamu’alaikum!” pamit Syafiyah.

Dan seperti hari-hari kemarin, suara-suara berat itu menjawab salam tersebut dengan penuh semangat seraya tak henti mendoakan Shafiyah.

“Siapakah dia sebenarnya Abu Umar ?”

“Ya, berapa umurnya ? Di mana tempat tinggalnya? Siapa saja keluarganya ?”

“Ishbir, ya Jabir, “Abu Umar tersenyum pada pemuda yang bernama Jabir itu. “Nanti kujelaskan.”

Jabir tertunduk malu. Ia tahu para ikhwah masih tersenyum-senyum memandangnya. Dan .. bukankah di antara yang hadir hanya dia yang belum menggenapkan separuh dinnya ?

Shafiyah, Shafiyah. Tiba-tiba nama itu terus muncul di benaknya. Turun memasuki relung-relung hatinya. Membawa pendar cahaya. Ah, Jabir menepisnya. Astagfirullah.

“Aku mengenalnya setahu lalu di Ummu Shabrah an Naqb. Ketika aku melewati jalan sepi di daerah itu bersama istriku, aku melihat seorang gadis. Dia mengikat seutas tambang pada pohon besar dan turun ke dalam sebuah lobang, semacam sumur. Kami mempehatikannya dan terkejut ketika melihatnya mengangkat kerangka manusia dari sumur tersebut …”

Hening. Semua seakan menahan napas mendengar cerita Abu Umar.

“Ke … rangka, maksud Abu Umar, sumur tempat pembantaian massal itu … Shafiyah …”

Ya, ia yang menemukannya. Dan kami bersama-sama akhirnya menyebarluaskan hal tersebut sehingga banyak ikhwah yang membantu menguburkan puluhan kerangka korban kebiadaban Israel beberapa tahun lalu.”

“Berani sekali, “komentar Jabir. “Masya Allah.”

Yang lain melirik Jabir penuh arti.

“Syafiyah sangat keras, tegar. Mungkin karena pada usia empat belas tahun ia harus melihat orangtua dan kakaknya tewas ditembak tentara Israel ketika baru keluar dari rumah mereka. Ia lolos karena keistimewaan yang diberikan Allah padanya. Pelari. Ia seorang pelari cepat dan ahli bela diri.”

“Lalu di mana tempat tinggalnya ?” tanya seorang pemuda.

“Aku pernah mengajaknya tinggal bersamaku, tetapi ia masih memiliki seorang paman di Kfar Darom. Di sana pun ia tak sering. Ia lebih suka berpindah-pindah. Menginap di rumah beberapa muslimah misalnya. Ia tahu, bisa saja para tentara-tetara israel mencari-carinya. Kini usianya tujuh belas tahun.”

###

Pagi itu Shafiyah asyik mencubit-cubit bibir bawahnya. Ia sedang mencari akal untuk dapat merampas senjata milih israel tak jauh di hadapanya. Keningnya masih berkerut ketika tiba-tiba ….

Entah dari mana datangnya terdengar gemuruh suara para tentara israel, tank dan hingar bingar tembakan senjata di Nablus!

Wah, kalau begini bagaimana bisa kurampas, suaranya sendiri. Tapi Syafiyah ingin tahu apa yang terjadi. Lalu seketika dilihatnya barisan kaum Muslimin. Para lelaki yang mengenakan kafiyeh hitam putih, merah dan hijau sebagai penutup muka begitu banyak! Mereka menyerukan takbir dan yel-yel HAMAS! Mereka datang dari arah Universitas Najah! Para Mahasiswa!

“Kita semua adalah Sholahuddin, adalah Ayyash dan Imad Aqeel! Hidup Syeikh Ahmad Yasin! Usir israel dari Jabal Abu Gneim! Bebaskan Palestina dengan darahmu! Allahu Akbaaaaarrr!” teriak mereka sambil melempari israel dengan batu.

Tanpa berpikir lagi, Syafiyah bergabung dengan barisan muslimin. Memunguti dan melempari orang-orang biadab itu dengan batu-batu yang berserakan di sekitar sana! Ini adalah protes akan arogansi Netanyahu dan Menteri Pertahanan israel Yitzhak Mordechai yang akan membangun pemukiman israek di Harhorma (Jabal Abu Gneim)! Pasti itu! Syafiyah tahu, itulah kebiadaban yahudi israel yang sambil membantai dan menyembelih kaum muslimin masih sibuk mempersiapkan berbagai ‘pesta’ pembuangan penduduk Palestina dari negerinya sendiri! Juga dalil Israel, bahwa mereka, adalah ‘anak manis’ yang cinta damai dan hanya membela diri dari para teroris Palestina!! Gila !

Helvy Tiana Rosa

(repost dari sini:http://boemi-islam.net/2004/05/bara-shafiyah/)

Komiknya bisa dibaca disini

Advertisements

18 thoughts on “Bara Syafiyah

  1. nawhi said: menarik sekali critanya, mas roel yg menggambar komiknya?

    Betul sekali, tapi ceritanya yang buat Helvi Tiana Rosa – jangan-jangan Ihwan gak kenal?

  2. Selama ini aku buka web versi mobile, dan agak bingung dengan id “New”itu siapa. Pas ngeklik bagian depan, ealah, terjebul “New” itu bang Roel tha? As-ta-ga :))

  3. nawhi said: yang lucu n fun, dah pernah baca Xerografer Mas? Pm aja kali ya enaknya.

    belum sempet baca xerografer….:D mendingan bikin yang baru samasekali wan 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s