KOKABI, DAN SEBUAH CINTA YANG KERAS KEPALA

Karpet Biru yang Saya Kenal
Perkenalan saya dengan kelompok (studio? Komunitas?) Karpet Biru, seingatsaya, tak berhubungan dengan komik. Saya kenal pertama dengan anggota KarpetBiru adalah dengan Ardi (pencipta karakter O), di SMA Lab School, Rawamangun.Saya datan gmalam-malam ke Lab School untuk menemani Agus Idwar (yang sekarang jadihost (cukup) kondang acara-acara keislaman i TV), untuk persiapan ebuahacara Rohis di situ.

Saya lupa, itu tahun berapa. Rasanya, pertengahan 1990-an. Saya dikenalkan denganArdi, yang katanya tergila-gila juga pada komik, seperti saya. Ah, apa yang kita omongkan waktu itu, Di? Komik Spiderman? Nah, beberapa waktu kemudian (setahun atau dua tahun kemudian? Saya lupa.) Saya ketemu lagi dengan Ardi. Dia sudah kuliah di UniversitasPancasila.Saya kebetulan mengisi salah satu sessi pelatihan jurnalistik.Ardisalahsatupanitia.

Di Universitas Pancasila itu, Ardi juga mengenalkan saya pada Nurul (Roel).Mereka cerita, sedang aktif juga membuatkomik.Dan ndilala htak lama setelah itu, saya juga berjumpa Ardi dan Roel di acara-acara festival komik. Mereka bernaung dibawah nama Karpet Biru. Saya membeli nomor-nomor awal kompilasi mereka.Saya pun secara bertahap berjumpa dengan para personil KarpetBiru lain: Immy, dan Harley.

Waktu sungguh cepat berlalu. Banyak dinamika terjadi dalam perkomikan Indonesia generasi Karpet Biru. Sayas endiri semakin banyak menulis dan meneliti komik secara mandiri, lepas-lepas, dan tak secara akademis –lebih banyak secara jurnalistik. Sepanjang pertautan saya dengan generasi komikus Indonesia yang saya sebut sebagai “generasiketiga”, teman-teman KarpetBiru selalu ada. Juga Kokabi mereka –seri antologi komikmereka, yang tak terbit secara teratur, tapi selalu ada.

Keselaluan itu adalah tanda.Teman-teman Karpet Biru rupanya memiliki semacam cinta yang keras kepala terhadap komik, yang membuat hidup mereka selalu –entah bagaimana– pertautan dengan komik.Pertautan itu bias mengambil bentuk berbagai-bagai.Toh, intinya adalah: mereka selalu ada ataut erlibat, atau terkait, dengan perkomikan Indonesia digenerasi mereka.

Soal”cinta yang keras kepala” (frasa yang saya ambil dariGoenawanMohamad), saya pernah menggunakan istilah itu pada pertengahan 2000-an untuk ntara lain menyebutkan sifat pertalian kelompok macam Karpet Biru dengan perkomikan Indonesia.

Pertengahan 2000-an itu, saya melihat bahwa ada tiga kelompok besar yang menyangga generasi ketiga komikus Indonesia.”Generasi ketiga” yang saya maksud adalah para komikus Indonesia yang muncul padapertengahan 1990-an, ditengah keadaan industry komik local sedang carut marut nyaris bangkrut. Ada banyak kelompok sebenarnya, dalam masa itu.Tapi, yang banyak aktif saat itu, kurang lebih memang tiga kelompok besar tersebut.

Dan tiga kelompok besar yang saya sebut tadi adalah:
(1) mereka yang ngomik karena terbakar keinginan “mengekspresikan seni” –biasanya terdiri dari parakomikus yang punya latar pendidikan sekolah senirupa,

(2) Mereka yang ngomik berbekal kemampuan teknis dan juga kemampuan memiliki serta menggunakan peralatangambar yang rata-rata mahal (Rotring, atau alatg ambar digital), dan

(3) mereka yang tak punya latar pendidikan seni dan teknik gambar memadai, tapi terus ngomik karena memiliki semacam cinta yang keras kepala pada medium komik.

Saya katakan, para komikus di Karpet Biru adalah termasuk kelompok ketiga. Mereka tak membiarkan keterbatasan teknik dan alat menggambar menghalangi mereka untuk tetap ngomik.
Dan lihat, sebuah cinta yang keras kepala bisa membawa kita sejauh apa. Bisa membawa KarpetBiru sejauh apa.

Kokabi no. 12

Kumpulan komik ini sudah lama ditunggu mbrojol-nya, rupanya. Jarak antara nomor-nomor akhir seri ini sedemikianjauh, sehingga di nomor 12 ini terasa seperti sebuah reuni. Terasa, memang, banyak yang telah terjadi dalam hidup para komikus KarpetBiru.

Banyak yang sudah menikah serta punya anak. Beberapa tak lagi tinggal di Indonesia.Roel sedang di Inggris. Dydy di New York. Masalah-masalah hidup mereka pun semakin beragam. Yang tampak tak banyak berubah, dari segi gaya atau cerita, adalah Ardie, dengan komik “Si O”-nya. Yah, bagaimana–komik dan karakter Si O memang tak dirancang untuk jadi wahana curhat atau cerita sehari-hari (yang walau bisa saja sangat fiktif, tapi selalu menggoda pengarang untuk menitipkan pengalaman nyata mereka sendiri).

Lingkaran pergaulan KarpetBiru telah mengembang. Dalam nomor ini, ada komikus-komikus tamu, seperti Ahmad Zeni, Tita Larasati, Pidi Baiq, dan Sheila “Lala” Roswita. Cerita Perfect “Sundae” dari Tita menampakkan kematangan garis-garisTita, sekaligus keluwesan bahasa komiknya. Lala tak pernah mengecewakan kalau kita ingin ketawa lepas –ceritanya disini, Cosplay Syndrome sungguh jitu memanfaatkan timing, sebuah modal utama cerita humor.

Harley sang “iburanger” paling banyak menyumbang dalam antologi ini. Dan saya selalu senang membaca cerita-cerita ibu muda yang selalu gembira ini. Tapi, komik-komikSeven Draw Your Days-nya secara khusus membuat saya gembira –sekaligus bias member intipan bagaimana dunia Harley telah berubah dari era SMU yang tercermin dari cerita-cerita Masa Indah Ceria-nya: perubahan yang malah mematangkan keceriaannya.

Imansyah “Immy” Lubis, sang “bapakranger”, rupanya tetap penasaran ingin membuat sebuahcerita superhero yang dalem, lewat Zenit. Andai Immy bisa melanjutkan penasaran itu jadi sebuah seri panjang, kalau perlu rangkaian novel grafis, superhero Indonesia, rasanya akan asyik.

Roel, khususnya catatan pengalamannya di Luton, Inggris, menampakkan penguasaan bahasa visual/komik yang telah matang juga.Malah, kematangan bahasa visual/komik itulah yang terasa didalam sebagian besar isi dari antologi cum reuni ini. Banyak penggambar yang keren, tapi tak banyak yang memiliki kematangan bahasa visual/komik.

Secara keseluruhan, Kokabi no. 12 ini menunjukkan bahwa sebuah cinta yang keras kepala, akan melahirkan kematangan. Dunia boleh berubah, tapi kematangan mencerap serta menggambarkan dunia akan tetap jadi nilai lebih dalam membuat komik.

Dalam sebuah dunia yang lebih baik dari yang saat ini kita jalani, cinta keras kepala teman-teman Karpet Biru akan jadi teladan etos para pekerja komik Indonesia saat ini. ***

(Hikmat Darmawan)