Perjalanan sebuah Cover

1. Client Brief

Mas ini ada proyek baru, Dia pgn nerbitin ulang novelnya
Ini konsep, Gambar ala komik perempuan, laki2, taman + eiffel Warna pink/ orange muda Perjalanan si tokoh ke bbrp negara, usaha dia utk dpt jodoh Salah, utk menjemput cln suami

begitu pesan Whatsap yang masuk dari bos muda diseberang lautan sana. Saatnya menyingsingkan lengan baju dan mulai bekerja!

2. Research

Wha? Sok amat gambar, doang pake riset. Sejak ngomik dulu memang selalu membiasakan untuk riset agar gambarnya terasa benar. Kunci desain yang sukses ternyata memang riset.
Apa, sih yang diriset? Dari brief singkat boss mozaik diperlukan referensi Menara Eifel, pakaian laki-laki dan perempuan. Ddengan bantuan mbah google dan beberapa foto stok pribadi jadilah sket awal seperti ini.


concept-1a

=

concept-1

3. Complication.
Ternyata yang order kurang cocok dengan style seperti itu. (Memang saya sempat mikir kok, iya, buku seperti itu mau-maunya cover komik apalagi orang Indonesia yang cenderung mainstream). Komunikasi dengan model pesan berantai bikin pesan tidak sampai, Jadi saya get in touch dengan clientnya langsung. Informasi dari client bikin kening cukup berkerut. Pertama client ingin background dengan shocking Pink tapi illustrasi model lukisan.@_@

Shocking pink is bold and intense. It takes its name from the tone of pink used in the lettering on the box of theperfume called Shocking,[51] designed by Leonor Fini for the Surrealist fashion designer Elsa Schiaparelli in 1937. (WIKIPEDIA)

setelah meriset gambar taman menara Eiffel lalu melukis secara digital di SAI maka jadilah seperti ini:

cinderalla-in-paris-cover-2-copy

Agar karakternya tidak tenggalam dalam pink, saya pisahkan karakter dan backgroundnya, saya juga mentrace ulang gambar Eiffel Tower agar lebih terasa goresannya.

cinderalla-in-paris-cover-2
Cinderella in Paris v 2.0

Pakaian laki-laki dan perempuannya juga harus disesuaikan dengan keadaan dimana taman bunga bermekaran alias musim panas. Tapi mbaknya nggak setuju kalau cuman tank-top dan rok mini (standar bule kalo udah gerah). Belakangan beliau mengusulkan baju babydoll (bukan pengamat baju wanita jadi moga-moga istilahnya benar). Lagi-lagi mbah gugel dijadikan rujukan mode musim panas ditambah referensi dari penulis.

Cinderella in Paris 2.1
Cinderella in Paris v 2.1

4. See no Evil
Mata adalah jendela hati kata orang, tapi buat saya eyes are the stereotype. Gambar mata model saya sering dituduh milik ‘Jepang’ yang justru ingin saya hindari. Saya mengambil pendekatan dari Komikus ‘Patlabor’ , Masami Yuki, Sensei Masami tidak menggambar mata orang-orang disekitar tokoh utamanya saat misalnya tokoh-tokoh utamanya berada dalam kerumunan. Karena di dalam cover ini tokohnya hanya dua maka fokus harusnya tetap pada kedua tokoh tersebut. Selain itu saya pengen sedikit ngasi challenge ke pembaca Indonesia 😀 Mbak Sari kurang ‘sreg’ akhirnya tetap pakai mata.

cinderalla-in-paris-cover-2b
Cinderella in paris V 2.2.

Setelah mata ditambah sepertinya beliau senang.

5.Lettering
Saatnya mencari font judul yang tepat dan menggambarkan bukunya. Pada prinsipnya jangan terlalu banyak menggunakan jenis font dalam satu cover dan jangan terlalu keriting juga agar mudah dibaca. Maksimal 2 atau 3 jenis font.

Ditambah endorsement serta pritilan lainnya jadilah seperti ini:

cinderella-in-paris-revised-with-eyes-01

Ini juga di OK, cover sudah siap naik cetak dan terbit.

6. S**t happens

Yah begitulah nggak jadi terbit cerita lengkapnya ada di blog mr Moz

Well at least the artwork is mine :D.

Sekian sharing dari saya semoga bisa diambil hikmahnya /

========================

Sedikit mengenai mata ‘Jepang’

Bapak Manga adalah Osamu Tesuka yang terkenal dengan karyanya Tetsuwan Atom atau Astro Boy. Insipirasi menggambar Mbah Osamu Tezuka adalah Bambi karya maestro Walt Disney.

Look into my eeeyyyeeeesss!!!
Look into my eeeyyyeeeesss!!!

Maka jadilah mata belok diadaptasi Osamu Tezuka dalam Atom Boy, yang akhirnya jadi trademark komik Jepang. Tapi apakah Bambi lalu jadi Jepang?

*Elus-elus dada*

[Kasus 1] Penulis Yang Tak Bertanggung Jawab.

Risk of doing business

Mozaik Indie Publisher

Selama setahun menjalankan penerbitan Mozaik Indie Publisher, banyak pengalaman yang kami dapatkan baik itu suka maupun duka. Kerjasama yang terjalin antara kami dengan penulis, desainer, percetakan, partnership hingga pembaca tak selamanya berjalan mulus. Adakalanya terjadi gesekan-gesekan yang disebabkan oleh kesalahpahaman maupun tidak adanya profesionalitas dalam diri salah satu pihak.

Kalaupun sekarang kami membeberkan kasus yang telah terjadi bukan maksud kami untuk menjelekkan nama personal namun lebih pada pembelajaran bersama dan peringatan bagi yang bersangkutan agar tak meremehkan penerbitan indie.

Pada medio Desember 2012 ada seorang mahasiswa sebuah PTN di Malang Fakultas Ilmu Budaya yang menghubungi saya, namanya M. Zuber Syamsudin atau akrab dipanggil Udin. Kepada saya Udin mengaku kalau dia sudah mempunyai satu novel yang diterbitkan sebuah penerbitan major di Malang. Menurut pengakuannya, novelnya ini menjadi best seller dan stoknya sudah habis. Nah dia menghubungi saya dan meminta tolong untuk mencetak ulang bukunya 5000 eksemplar karena ada distributor di Jakarta…

View original post 587 more words